Tata Laksana Bayi Risiko Tinggi
TATALAKSANA
BAYI RISIKO TINGGI
Risiko tinggi artinya
sesuatu hal yang dipunyai bayi yang menyebabkan atau memudahkan ia bisa menjadi
sakit, namun bisa juga tidak jadi sakit karena ditetelaksana dengan baik.Yang
termasuk bayi risiko tinggi yaitu:
1)
BBLR
BB
normal untuk bayi aterm adalah antara (2500-4000 gr), BBLR menjadikan bayi berisiko
tinggi untuk terkena penyakit atau gangguan lain adalah karena BBLR menunjukkan
bahwa organ-ogan pada bayi belum berkembang dengan baik, sedangkan ia sudah
harus memfungsikan organ tersebut untuk bertahan ektrauterin.
2)
Asfiksia
neonatorum
Kegagalan bernapas
secara spontan dan teratur
pada saat lahir
atau beberapa saat setelah
lahir yang ditandai
dengan keadaan PaO2 di dalam
darah rendah (hipoksemia), hiperkarbia (Pa CO2 meningkat)
dan asidosis.
Tatalaksana:
· Resusitasi
o
Tahapan resusitasi tidak melihat nilai
apgar.
o
Terapi medikamentosa:
a.
Epinefrin
b.
Volume expander
c.
Bikarbonat
d.
Nalokson
e.
suportif
3)
Sindrom,
gangguan pernafasan
Sistem
pernafasan merupakan salah satu sitem yang mutlak harus berjalan dengan baik
saat bayi lahir sebagai bentuk adaptasi terhadap kehidupan setelah diluar
rahim. Apabila sistem ini tidak dapat berjalan degan baik maka bayi kemungkinan
tidak akan selamat dan akan menderita komplikasi yang lain.
4)
Hiperbilirubinemia
Keadaan ikterus
yang terjadi pada bayi
baru lahir. Ikterus: akumulasi
bilirubin di dalam
jaringan ekstravaskuler
(darah) sehingga terjadi perubahaan warna
menjadi kuning pada
kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya. Nilai
normal: bilirubin indirek
0,3 – 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 – 0,4 mg/dl.
Tujuan tatalaksana:
· Menghilangkan
Anemia
· Menghilangkan
Antibodi Maternal dan Eritrosit
· Tersensitisasi
· Meningkatkan
Badan Serum Albumin
· Menurunkan
Serum Bilirubin
Tatalaksana:
1.
Fototerapi
2.
Transfusi Pengganti
3.
Infus Albumin
4.
Terapi Obat
5)
Perdarahan
tali pusat
Perdarahan
tali pusat merupaka faktor bayi mengalami risiko tinggi, karena perdarahan pada
tali pusat sebenarnya hanya manifestasi/ salah satu perdarahan yang terlihat,
namun sebenarnya kemungkinan besar organ-organ lain uga terjadi perdarahan,
itulah sebabnya perdarahan tapi pusat perlu diperhatikan.
Tatalaksana
: pemberian Vitakin K segera setelah lahir akan membantu mengurangi resiko
perdarahan pada BBL.
6)
Kejang
Bayi
yang kejang sangat berbahaya, karena dapat kejang pada bayi dapat menyebabkan
berbagai gangguan serius seperti gagal nafas, perdarahan di otak, kecacatan,
bahkan kematian.
7)
Hipotermia
Bayi dengan
suhu badan di
bawah normal (36,5-37,5°C (suhu
normal ketiak)). Tujuan
tatalaksana: mempertahankan suhu tubuh
untuk mencegah hipotermia.
1. Mengeringkan bayi segera setelah lahir
2. Menunda memandikan
bayi lahir sampai
suhu tubuh normal untuk mencegah
terjadinya serangan dingin
3. Bayi yang
mengalami hipotermi biasanya
mudah sekali meninggal. Tindakan
yang harus dilakukan adalah segera
menghangatkan bayi di
dalam inkubator atau melalui penyinaran lampu (infant warmer)
4. Metode dekap,
yaitu bayi diletakkan telungkup
dalam dekapan ibunya
dan keduanya diselimuti agar bayi
senantiasa hangat.
5. Bila tubuh
bayi masih dingin,
gunakan selimut atau kain
hangat yang diseterika
terlebih dahulu yang digunakan untuk
menutupi tubuh bayi
dan ibu. Lakukan berulangkali
sampai tubuh bayi
hangat. Tidak boleh memakai buli-buli
panas, bahaya luka bakar.
6. Biasanya bayi
hipotermi menderita hipoglikemia sehingga bayi
harus diberi ASI
sedikit-sedikit dan sesering mungkin.
Bila bayi tidak
dapat menghisapberi infus glukosa
10% sebanyak 60-80 ml/kg per hari.
8)
Hipertermia
Kenaikan
suhu tubuh diatas 410C (rectal), suhu >410C anak bisa
mengalami kejang, dan suhu >420C dapat
menyebabkan denaturasi dan kerusakan sel secara langsung. Akibat
yang bisa terjadi pada hiperpirexia :
ü Renjatan
/ Hipovolemia
ü Gangguan
fungsi jantung
ü Gangguan
fungsi koagulasi
ü Gangguan
fungsi ginjal
ü Nekrosis hepatosellular
ü Hiperventilasi, yang
dapat menyebabkan hipokapnea, alkalosis dan tetani.
Penanganan
1.
Antipiretik tidak
diberikan secara otomatis pada
setiap penderita panas
karena panas
merupakan usaha
pertahanan tubuh, pemberian antipiretik
juga dapat menutupi kemungkinan komplikasi.
ü Pengobatan
terutama ditujukan terhadap penyakit penyebab panas.
ü Parasetamol:
10 -15 mg/kg BB/kali (oral/rektal).
ü Metamizole (novalgin):
10 mg/kg BB/kali (oral/intravenous).
ü Ibuprofen: 5-10 mg/kg BB/kali, (oral/rektal).
2.
Pendinginan
Secara fisik
ü Merupakan terapi
pilihan utama. Kecepatan
penurunan suhu > 0,1C/menit sampai tercapai suhu 38,5C.
ü Physical
cooling/compres : Evaporasi:
penderita dikompres dingin
seluruh tubuh, disertai kipas angin
untuk mempercepat penguapan.
Cara ini paling mudah, tidak invasif dan efektif.
ü Kumbah lambung
dengan air dingin, infus
cairan dingin, enema
dengan air dingin
atau humidified oksigen dingin,
tetapi cara ini
kurang efektif . Penurunan suhu
tubuh yang cepat
dapat terjadi refleks vasokonstriksi dan
shivering yang akan meningkatkan kebutuhan oksigen
dan produksi panas
yang merugikan tubuh.
9)
Hipoglikemia
Keadaan hasil
pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6
mmol/L)
Tatalaksana:
1. Monitor
ü Pada bayi
yang beresiko (BBLR,
BMK, bayi denganibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari
pertama:
ü Periksa kadar
glukosa saat bayi
datang/umur 3jam
ü Ulangi tiap
6 jam selama
24 jam atau
sampai pemeriksaan glukosa normal
dalam 2 kali pemeriksaan
ü Kadar glukosa
≤ 45 mg/dl
atau gejala positif tangani hipoglikemia
ü Pemeriksaan kadar
glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan
hipoglikemia selesai
2. Penanganan
hipoglikemia dengan gejala:
ü Bolus glukosa
10% 2 ml/kg
pelan-pelan dengan kecepatan 1
ml/menit
ü Pasang jalur
iv D 10 sesuai kebutuhan
(kebutuhan infus glukosa 6-8
mg/kg/menit).
ü GIR
·
Konsentrasi glukosa
tertinggi untuk infus
perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan vena sentral.
·
Untuk
mencari kecepatan Infus
glukosa pada neonatus dinyatakan dengan GIR.
·
Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam.
·
Bila
kadar glukosa masih
< 25 mg/dl,
dengan atau tanpa
gejala, ulangi seperti diatas.
·
Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :
·
Infus D10 diteruskan.
·
Periksa kadar glukosa tiap 3 jam
·
ASI diberikan bila bayi dapat minum
10) Tetanus neonatorum
Tetanus
neonatorun merupakan penyakit yang terjadi pada bayi kurang dari satu bulan
yang disebabkan oleh virus clostridium
tetani yang mengaluakan racun yang
menyerang sistem syaraf pusat. Dan akan menyebabakan bayi kejang, dan rahangnya
kaku sehingga tidak bisa menetek, bayi tidak bisa memenuhi kebutuhanya, tetanus
neonatorum juga bisa membuat bayi mengalami gangguan pernapasan dan kebiruan di
seluruh tubuh bayi.
Komentar
Posting Komentar