SATUAN ACARA PENYULUHAN TENTANG DIARE PADA BALITA

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENCEGAHAN DAN PERTOLONGAN PERTAMA
DIARE PADA BALITA






OLEH :

RITA RUKMAWATI
NIM. PO.71.24.2.17.031



KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES PALEMBANG JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2019


SAP PENCEGAHAN DAN PERTOLONGAN PERTAMA
DIARE PADA BALITA

Pokok Bahasan           : Manajemen Terpadu Balita Sakit
Sub Pokok Bahasan    : Pencegahan Dan Pertolongan Pertama DiarE
Sasaran/ Target            : Ibu dengan balita di Desa
Hari/ Tanggal              : Kamis, 19 Desember 2018
Waktu                         : 40 Menit
Tempat                        : Balai Desa
Penyuluh                     : Mahasiswi Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemenkes
  Palembang


A.           Latar Belakang
Penyakit diare adalah salah satu penyakit paling sering menyerang anak-anak di seluruh dunia termasuk di negara berkembang seperti Indonesia. Menurut WHO (2019), pada tahun 2018 diperkirakan 5,3 juta anak dibawah usia 5 tahun meninggal, dan sebagian besar dari penyebab kematian tersebut dapat dicegah. Secara global pneumonia (15%), diare (8%) dan malaria (5%) tetap menjadi penyebab utama kematian anak dibawah lima tahun, yang merupakan hampir sepertiga dari kematian global.
Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 menunjukkan AKN sebesar  15 per 1.000 kelahiran hidup, AKB 24 per 1.000 kelahiran hidup,  dan  AKABA  32  per  1.000  kelahiran  hidup. Untuk usia di atas neonatal sampai satu tahun, penyebab utama kematian adalah infeksi khususnya pnemonia dan diare. Ini berkaitan erat dengan perilaku hidup sehat ibu dan juga kondisi lingkungan setempat (Renstra, 2015-2019). Gambaran kematian pada neonatus, bayi, dan balita digambarkan dalam tabet beriku:


Menurut data Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (2017)  berdasarkan  SDKI  2015  Angka Kematian  Neonatal di Provinsi Sumatera Selatan yaitu 19  per 1.000  Kelahiran  hidup, dan hal ini sangat terkait dengan Kesehatan Keluarga. Sedangkan Jumlah  Kematian  Bayi  di  Provinsi  Sumatera  Selatan  sampai  dengan  bulan Desember   2017  mencapai 637 kasus yang disebabkan oleh penyebab langsung dan tidak langsung.
Menurut data Profil Kesehatan Kota  
Palembang (2017), jumlah kematian bayi di tahun 2017  sebanyak 29 kasus kematian  yang terdiri dari 20 bayi neonatus (0 s.d 28 hari) dan 9 bayi (29 s.d 11 bulan)  dari 27.876 kelahiran hidup dengan penyebab kematian antara lain adalah  diare, pneumonia, Asfiksia, BBLR, kelainan kongenital, dan lainnya. Untuk  Kota  Palembang  tahun  2017,  Jumlah  Kematian  Balita sebanyak  8  orang balita  (6 lain-lain, 2 DBD, dan 1 diare)  per  27.876 kelahiran hidup.
Kejadian di atas memberikan pacuan kepada kita sebagai warga Indonesia khusunya masyarakat Kota Palembang agar mengkritisi masalah ini, karena kebanyakan di masyarakat penyakit diare sering dianggap penyakit yang sepele, padahal diare dapat mengakibatkan kematian lebih cepat pada bayi dan balita dibandingkan dengan orang dewasa karena jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi.
Penyebab utama kematian akibat diare disebabkan oleh rotavirus, sisanya baru disebabkan oleh berbagai bakteri maupun parasit. Faktor ibu juga berperan dalam kejadian diare pada balita.ibu adalah sosok yang paling dekat dengan balita.jika balita terserang diare maka tindakan-tindakan yang ibu ambil akan menenntukan perjalananpenyakitnya. Tindakan ibu tersebuut dipengaruhi oleh berbagai hal salah satunya adalah pengetahuan. Salah satu pengetahuan ibu yang sangat penting  adalah bagaimana praktek perawatan anak dengan diare yaitu dengan pencegahan dan mengatasi keadaan dehidrasi, pemberian cairan pengganti (IDAI, 2015).
Berdasarkan uraian diatas maka, saya tertarik untuk mengadakan sosialisasi yang mengangkat topik Manajemen Terpadu Balita Sakit dengan sub topik Pencegahan dan Pertolongan Pertama Diare Pada Anak, semoga sosialisasi ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang pencegahan dan pertolongan pertama bayi dan balita diare, sehingga akan berdampak pada penurunan mortalitas dan morbiditas bayi dan balita di Kota Palembang yang disebabkan oleh penyakit diare.

B.            Tujuan
                  1.          Tujuan Instruksional Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan selama 40 menit tentang perawatan diare pada anak, peserta penyuluhan dapat mengerti dan melaksanakan hidup sehat melalui pendekatan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) sehingga kesakitan dan kematian diare dapat dicegah.

                  2.          Tujuan Instruksio nal Khusus
                                     1.          Menjelaskan pengertian diare.
                                     2.          Menjelaskan penyebab diare.
                                     3.          Menjelaskan tanda dan gejala diare.
                                     4.          Menjelaskan cara penularan diare.
                                     5.          Menjelaskan pencegahan diare.
                                     6.          Menjelaskan penanganan diare.

C.           Materi
1.      Pengertian diare.
2.      Penyebab diare.
3.      Tanda dan gejala diare.
4.      Cara penularan diare.
5.      Pencegahan diare.
6.      Penanganan diare.

D.           Metode
                       1.     Ceramah
                       2.     Diskusi
                       3.     Tanya Jawab

E.            Media
                       1.     Leaflet
                       2.     Power Point
                       3.     Laptop
                       4.     LCD

F.            Proses Pelaksanaan
No
Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1
5 menit
Pembukaan :
·    Memberi salam
·    Menjelaskan tujuan penyuluhan
·    Menyebutkan materi/ pokok bahasan yang akan disampaikan
Menjawab salam, mendengarkan dan memperhatikan
2
20 menit
Pelaksanaan :
·      Menjelaskan materi penyuluhan secara berurutan dan teratur.
Materi :     
1.    Pengertian Diare
2.    Penyebab Diare
3.    Bahaya Diare
4.    Penanganan Diare
5.    Nutrisi bagi penderita Diare
6.    Pencegahan Diare
7.    Teknik Mencuci Tangan dengan Benar
8.    Pembuatan dan Pemberian Oralit
Menyimak, memperhatikan,
3
10 menit
Evaluasi :
1.  Menyimpulkan inti penyuluhan.
2.  Menyampaikan secara singkat materi penyuluhan.
3.  Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengulang teknik cuci tangan yang diajarkan
4.  Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengulang cara pembuatan dan pemberian oralit
5.  Memberi kesempatan kepada peserta untuk bertanya.
6.  Memberi kesempatan kepada peserta untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan.
Menyimak, mempraktekkan dan mendengarkan, menanyakan yang belum jelas
4
5 menit
Penutup :
·         Menyimpulkan materi penyuluhan yang telah disampaikan.
·         Menyampaikan terima kasih atas perhatian dan waktu yang telah di berikan kepada peserta
·         Mengucapkan salam
Menjawab salam

G.           Evaluasi
1.      Evaluasi Struktur
a.       Peserta hadir ditempat penyuluhan tepat waktu.
b.      Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Balai Desa.
c.       Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.
2.      Evaluasi Proses
a.       Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
b.      Peserta mengikuti jalannya penyuluhan sampai selesai
c.       Peserta dapat mempraktekkan teknik cuci tangan dengan benar
d.   Peserta dapat mengulang cara pembuatan dan pemberian oralit sesuai anjuran dan takaran yang disampaikan
e.       Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.

3.      Evaluasi Hasil
Setelah penyuluhan diharapkan sekitar 80% peserta penyuluhan mampu mengerti dan memahami penyuluhan yang diberikan sesuai dengan tujuan khusus.
a.       Metode evaluasi          : diskusi dan tanya jawab
b.      Jenis pertanyaan          : lisan
c.       Jumlah soal                  : 4 soal meliputi:
1)      Apa yang dimaksud dengan diare?
2)      Apa saja tanda-gejala yang muncul?
3)      Bagaimana pertolonganpertama diare pada bayi dan balita?
4)      Kapan harus dibawa tenaga kesehatan?




Lampiran
MATERI

A.      Definisi Diare
Menurut World Healt Organization (WHO, 2005), penyakit diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja yang berdarah. Penyakit ini paling sering dijumpai pada anak balita, terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, dimana seorang anak bisa mengalami 1-3 episode diare berat (Simatupang, 2004).
Diare adalah buang air besar pada bayi atau anak lebih dan 3 kali sehari, disertai konsistensi tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang berlangsung kurang dan satu minggu (Juffrie, dkk, 2010).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2011) mendefinisikan diare adalah suatu kondisi dimana seseorang membuang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, dapat berisi air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam  satu hari.
Dapat disimpulkan bahwa diare adalah buang air besar yang bertambahnya frekuensi defekasi lebih dari 3 kali perhari dan konsistensi dari tinja yang melembek sampai mencair

B.       Etiologi
Penyebab Menurut Hidayat (2012):
             1.          Virus                         3.  Alergi makanan
             2.          Jamur                        4.  Obat-obatan

Sedangkan menururt psikologis Wong (2009) mengatakan  :
             1.     Makanan dan udara yang terkontaminasi
             2.     Lingkungan yang kurang bersih
             3.     Kebersihan yang buruk
             4.     Sanitasi yang buruk

Faktor penyebab terjadinya diare, adalah sebagai berikut:
1.     Faktor infeksi
a.       Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
1)   Infeksi  bakteri: Vibrio,  E.coli,  Salmonella,  Shigella,  Campylobacter,  Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.
2)   Infeksi virus: Enterovirus (virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis) Adeno-virus, Rotavirus,
3)   Astrovirus, dan lain-lain.
4)   Infeksi parasit: cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides); protozoa (Entamoeba
5)   histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis); jamur (Candida albicans).
b.      Infeksi parenteral ialah infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut (OMA), tonsilitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun.
Keterangan:
Organisme-organisme  ini  mengganggu  proses  penyerapan  makanan  di  usus  halus. Dampaknya makanan tidak dicerna kemudian segera masuk ke usus besar. Makanan yang tidak dicerna dan tidak diserap usus akan menarik air dari dinding usus. Di lain pihak, pada keadaan ini proses transit di usus menjadi sangat singkat sehingga air tidak sempat diserap oleh usus besar. Hal inilah yang menyebabkan tinja berair pada diare.

2.     Faktor malabsorbsi
           a.       Malabsorbsi  karbohidrat:  disakarida  (intoleransi  laktosa,  maltosa  dan  sukrosa); monosakarida  (intolerasni  glukosa,  fruktosa,  dan  galaktosa).  Pada  bayi  dan anak  yang terpenting dan tersering (intoleransi laktosa).
           b.       Malabsorbsi lemak
           c.       Malabsorbsi protein

3.     Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

4.     Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).

Diare selain disebabkan oleh beberapa infeksi virus dan juga akibat dari racun bakteria, juga  bisa  disebabkan  oleh  faktor kebersihan  lingkungan tempat  tinggal. Lingkungan  yang kumuh  dan  kotor  menjadi  tempat  berkembang  bakteri (E.coli),  virus  dan  parasit (jamur, cacing, protozoa), dan juga lalat yang turut berperan dalam membantu penyebaran kuman penyakit diare.
Diare juga bisa muncul akibat tangan kotor dan dapat pula karena tertular dari binatang peliharaan,  dan  kontak  langsung  dengan  feses  atau  marterial  yang  menyebabkan  diare.
Namun  demikian,  disamping  beberapa  faktor  yang  menjadi  penyebab  diare  diatas, sebenarnya ada beberapa hal lagi yang menjadi faktor utama dari terjadinya diare, yaitu:
 1.            Gizi yang buruk. Keadaan ini melemahkan kondisi tubuh penderita sehingga timbulnya diare akibat penyakit lain menjadi sering dan semakin parah.
 2.            Ketidakmampuan alat pencernaan seorang bayi untuk memproses susu dapat menyebabkan ia mengalami diare.
 3.            Seorang bayi yang tidak mampu mencerna makanan yang baru dan belum dikenali.
 4.            Akibat alergi pada makanan tertentu.
 5.            Penggunaan  obat-obatan  tertentu  yang  tidak  dapat  diterima  oleh  jaringan  tubuh  akan menyebabkan penyakit sampingan berupa diare.
 6.            Infeksi dalam perut yang disebabkan virus, cacing, atau bakteri
 7.            Terlalu banyak makan buah mentah atau makanan berlemak
 8.            Keracunan makanan

Faktor yang meningkatkan penyebaran kuman penyebab diare:
1.      Tidak memadainya penyediaan air bersih
2.      Air tercemar oleh tinja
3.      Pembuangan tinja yang tidak hygienis
4.      Kebersihan perorangan dan lingkungan jelek
5.      Penyiapan dan penyimpanan makanan yang tidak semestinya
6.      Penghentian ASI yang terlalu dini

C.       Tanda dan Gejala
              a.   BAB encer lebih dari 3x atau anak sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer (Vade, 2003: 34).
               b.            Muntah (Vade, 2003: 34).
                c.            Demam (Vade, 2003: 34).
               d.            Nyeri abdomen (Vade, 2003: 34).
                e.            Badan terasa lemah.
                f.            Anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan berkurang.
               g.            Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
               h.   Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya defekasi dan tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
                 i.   Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan bibir kering serta penurunan berat badan.
                 j.   Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat, tekan darah turun, denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran menurun.
               k.   Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria) (Suraatmaja, 2005:8).

D.      Bahaya diare
Menurut Amin (2015) mengatakan ada diare yang dapat digunakan jika ada medis yang dapat menyebabkan krisis, cairang dan  elektrolit dalam tubuh.

E.       Pencegahan
             1.          Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada waktu penting:
a.       Sebelum makan
b.      setelah buang air besar
c.       sebelum memegang bayi
d.      setelah menceboki anak dan
e.       sebelum menyiapkan makanan

Teknik cuci tangan
Cuci tangan 7 langkah adalah tata cara mencuci tangan menggunakan sabun untuk membersihkan jari-jari, telapak dan punggung tangan dari semua kotoran, kuman serta bakteri jahat penyebab penyakit.
Cuci tangan 7 langkah merupakan cara membersihkan tangan sesuai prosedur yang benar untuk membunuh kuman penyebab penyakit. Dengan mencuci tangan paki sabun baik sebelum makan ataupun sebelum memuali pekerjaan, akan menjaga kesehatan tubuh dan mencegah penyebaran penyakit melalui kuman yang menempel di tangan. Berikut langkah cuci tangan yang baik dan benar :
1.      Basahi kedua telapak tangan setinggi pertengahan tangan memakai air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut.


 

2.      Usap dan gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian

3.      Jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih
4.      Bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan 

5.      Gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian

6.      Letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok perlahan

7.      Bersihkan kedua pergelangan tangan secara bergantian dengan cara memutar, kemudian diakhiri dengan membilas seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk bersih atau tisu.


             2.     Meminum air sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus, ± 10-15 menit.
             3.     Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merebus sampai mendidih ± 10-15 menit.
             4.     Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.
             5.     Mencuci makanan/sayuran sebelum dimasak dibawah air mengalir.
             6.     Mencuci botol susu dan tempat makan anak dengan cara mencuci di bawah air mengalir lalu rendam dengan air panas ± 5 menit baru digunakan lagi.
             7.     Menjaga kebersihan diri.
             8.     Menjaga  kebersihan  lingkungan: rumah, saluran air, pengelolaan sampah yang baik yaitu sampah dibuang pada tempatnya dan tempat sampah selalu ditutup agar makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, lipas, dan lain-lain), membuang tinja termasuk tinja bayi pada jamban/WC.


F.       Perawatan dan Perawatan di Rumah
             1.     Mengganti  cairan  tubuh  yang  hilang  melalui  tinja  dan  muntahSegera beri banyak minum dengan Air susu ibu, kuah sayur, kuah sop, air tajin, sari buah, air teh, air matang, larutan gula garam. Sebaiknya  makanlah  makanan  setengah padat  (bubur)  atau makanan padat (nasi tim), makanan rendah serat (tanpa buah, tanpa sayur) dan rendah lemak.
             2.     Berikan zinc selama 10-14 hari. Zinc berfungsi untuk memperbaiki epitel usus supaya tidak sering diare. Caranya zinc dilarutkan dalam 1 sendok air. Pemberian zinc untuk anak <6 bulan ½ tablet dan >6 bulan 1 tablet.
             3.          Jika ada beri oralit atau membuat Larutan Gula Garam:
Larutan gula-garam
a.       Alat:
1)   Sendok
2)   Gelas

b.      Bahan:
1)   1 sdm gula
2)   ¼ sdm garam
3)   Segelas air putih yang telah dimasak (200 ml)

c.       Cara Membuat:
1)   Cucilah tangan dengan bersih
2)   Tuangkan air masak ke dalam satu gelas air
3)   Masukkan gula 1 sdm penuh
4)   Masukkan ¼ sdm garam
5)   Aduk sampai larut
6)   Larutan gula garam segera minum

2.      Membuat Larutan Oralit
Larutan oralit adalah larutan untuk mengobai diare. Tujuannya: mencegah kehilangan cairan berlebih.
a.         Alat:
1)        Sendok
2)        Gelas
b.        Bahan:
1)   1 bungkus oralit
2)    Segelas air masak (200 ml)
c.         Cara membuat:
1)   Cuci tangan sampai bersih
2)   Tuang air masak satu gelas
3)   Bubuk oralit 1 bungkus dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak
4)   Aduk sampai semua bubuk larut dengan sendok
https://ivanbayu77.files.wordpress.com/2013/04/oralit-2.png
d.         Kebutuhan oralit sesuai kelompok umur :
Umur Setiap Mencret Jumlah oralit yang disediakan di rumah:
< 1 tahun              :  ¹/₂ gelas         : 400 ml/hari (2 bungkus)
1 - 4 tahun            : 1 gelas           : 600-800 ml/hari (3-4 bungkus)
5 – 12 tahun         :  1 ¹/₂ gelas      : 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus)
Dewasa                :  3 gelas          : 1200-2800 ml/hari (6-10 bungkus)
Catatan : 1 bungkus oralit = 1 gelas = 200 ml. Perkiraan oralit untuk kebutuhan 2 hari.




             4.          Teruskan pemberian makanan.
                       a.          Selama diare:
1)        ASI pada bayi yang melahirkan.
2)        Anak usia diatas 6 tahun diberikan makanan seperti:
3)        Bubur dan sayuran
4)        Sari buah segar
5)        Beri makanan lebih dari 6 kali sehari
                       b.          Setelah diare:
Beri makan lebih sering dari biasanya, minimal sekama 3 minggu dan teruskan seperti biasanya.
                       c.          Harus diperhatikan:
1)      Jangan beri makanan seperti pedas, terlalu asin atau asam.
2)      Jangan memberikan makanan yang sudah rusak atau basi

             5.     Mencari pengobatan lanjutan Segera bawa ke puskesmas atau rumah sakit, jika tidak membaik dalam 3 hari atau ada yang salah tanda:
a.       Diare terus menerus
b.      Muntah berulang-ulang
c.       Rasa haus yang nyata
d.      Makan / minum sedikit
e.       Demam
f.       Ada darah salam tinja




DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia.  2011.  Buku Saku Petugas Kesehatan.  (edisi 2011).  Diambil pada tanggal 14 Desember 2019 dari www.depkes.go.id/

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 2018. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017. Palembang: Dinkes Provinsi Sumatera Selatan. diakses tanggal 22 November 2019 dari www.ppid-dinkes.sumselprov.go.id.

Hidayat, A.A.A.  2012.  Pengantar Ilmu Keperawatan Anak.  (edisi kedua).  Jakarta: Salemba Medika.

Kemenkes RI. 2014. Info Datin Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI. Jakarta Selatan: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2018. Jakarta: Kemenkes RI. diakses pada pada 14 Desember 2019 dari https://www.depkes.go.id

Kementerian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak, & Badan Pusat Statistik. 2018. Profil Anak Indonesia. Jakarta : Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA)

Oktaviani, Fransiska. 2018. Satuan Acara Penyuluhan Penyakit Diare pada Anak: Perawatan Penyakit Diare pada Anak di ruang Ade Irma Suryani RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon. Cirebon: Politeknik Kesehatan Kemenkes Tasikmalaya

Puspita, Triana. 2016.  Satuan Acara Penyuluhan Diare pada Anak.  Diambil pada tanggal 14 Desember 2019 dari http://trianapuspita96.blogspot.co.id

Setyawati, Suci., dkk. 2015. Satuan Acara Penyuluhan Diare. Surabaya: Poltekkes Kemenkes Surabaya.

Wong D.L. 2009.  Essential of Pediatric Nusing.  (Andry Haryono, Sari Kurnianingsih & Setiawan, penerjemah).  Mosby, Inc. Jakarta: EGC.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERENCANAN DALAM MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN

Konsep Sehat Sakit

Cara Menggabungkan Halaman Angka Romawi (ex: I, II, II) dan Angka Biasa (ex: 1, 2, 3)