PROPOSAL KEGIATAN STRATEGI PEMBINAAN KADER POSYANDU
PROPOSAL KEGIATAN
PELATIHAN KADER SADAR GIZI (PAKARDARZI)
DI KECAMATAN LOSARI TAHUN 2019
OLEH :
RITA
RUKMAWATI
PO.71.24.2.17.031
DOSEN PENGAMPU : ASRI NOVIYANTI,
SST., M.Keb.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN
2019
A.
LATAR
BELAKANG
Keadaan gizi masyarakat Indonesia pada
saat ini masih belum menggembirakan. Berbagai masalah gizi seperti: gizi kurang
dan gizi buruk, kekurangan vitamin
A,
anemia gizi besi, gangguan akibat kurang yodium dan gizi lebih (obesitas) masih
banyak tersebar di kota dan desa di seluruh tanah air.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas, 2018) pemberian
ASI eksklusif pada bayi umur 0-5 bulan baru mencapai 37,3%. Dan terdapat 13,8%
balita Indonesia berstatus gizi kurang, 3,9% mengalami gizi buruk selain itu
juga 8% balita memiliki proporsi status gizi melebihi normal atau dikategorikan
sebagai balita gemuk. Sebanyak 19,3% balita memiliki proporsi status gizi
pendek dan 11,5% balita memiliki proporsi statur gizi sangat pendek.
Untuk status gizi wanita usia subur, menurut data Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018) proporsi kurang energi kronis pada wanita
usia subur dalam keadaan hamil di Indonesia sebanyak 17,3%, sedangkan kejadian kurang energi
kronis pada wanita usia subur dalam keadaan tidak hamil sebanyak 14,5%. Sebanyak 61,9% ibu hamil mendapat
tablet tambah darah kurang dari 90 butir, bahkan 26,8% ibu tidak pernah
mendapat tablet tambah darah selama kehamilannya.
Sebagai salah satu provinsi dengan populasi terbanyak di Indonesia, Jawa Barat
merupakan salah satu daerah prioritas dalam penanganan kasus gizi buruk.
Kecamatan losari merupakan salah satu wilayah yang banyak ditemui
masalah-masalah gizi. Berdasarkan hasil bulan penimbangan balita pada Agustus
2016 yang dilaksanakan oleh Puskesmas Losari, ditemukan 9,1% balita stunting
dan 3,5% balita dengan status gizi melebihi normal atau kategori gemuk.
Terdapat 260 (8,7%) balita dengan gizi kurang bahkan sebanyak 24 (0,8%) balita
mengalami gizi buruk, dan angka pencapaian ASI eksklusif selama 6 bulan juga
masih kurang dari 25%.
Untuk status gizi wanita usia subur,
hasil survei kesehatan didapatkan Prevalensi kurang energi kronik pada wanita
usia subur sebanyak 13,7%. Untuk cakupan pemberian tablet tambah darah, hanya 45,2%
ibu hamil yang meminum tablet tambah darah namun masih kurang dari 90 butir
selama kehamilan, bahkan sebanyak 8,3% ibu hamil tidak pernah minum tablet
tambah darah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi keadaan
tersebut antara lain adalah tingkat kemampuan keluarga dalam menyediakan pangan
sesuai dengan kebutuhan anggota keluarga, pengetahuan dan perilaku keluarga
dalam memilih, mengolah, dan membagikan makanan ditingkat rumah tangga,
ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi dasar, serta ketersediaan dan
aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan dan gizi masyarakat yang
berkualitas, disamping itu faktor sosial budaya dan mitos yang berkembang di
masyarakat turut menyumbang munculnya masalah-masalah gizi di masyarakat
(UNICEF, 1998; Supariasa, Bakri, &Fajar, 2001).
Balita merupakan kelompok yang cukup rawan untuk mengalami gangguan
gizi. Secara fisiologis keadaan gangguan gizi akan terjadi pada balita dan
diperlukan antisipasi untuk mencegah gangguan gizi menjadi berlanjut dan
menimbulkan berbagai komplikasi.
Gangguan gizi balita mempunyai dampak yang cukup besar terhadap proses
pertumbuhan balita. Bila balita
mengalami gangguan gizi maka akibat yang akan ditimbulkan antara lain: gizi buruk, gizi kurang,
kwashiorkor, dan marasmus.
Melihat tingginya angka gizi buruk di
Indonesia pemerintah telah membuat alternatif kebijakan guna menanggulangi
masalah tingginya angka gizi buruk. Salah satu langkah strategi yang dilakukan
adalah dengan menerapkan Program Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).
Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) merupakan
keluarga yang seluruh anggota keluarganya melakukan perilaku gizi seimbang,
mampu mengenali masalah kesehatan dan gizi bagi setiap anggota keluarganya, dan
mampu mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah gizi yang dijumpai oleh
setiap anggota keluarganya.
Keluarga disebut Kadarzi apabila telah
berperilaku gizi yang baik yang
dicirikan minimal dengan menimbang berat badan secara teratur, memberikan Air
Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI
eksklusif), makan beraneka ragam, menggunakan garam beryodium, minum suplemen
gizi (TTD, kapsul Vitamin A dosis tinggi) sesuai anjuran (Depkes RI, 2007:5).
Pelaksanaan Kadarzi akan sangat
tergantung pada kerjasama lintas sektor diberbagai tingkat administrasi. Kadarzi
untuk tingkat kecamatan dilaksanakan pada puskesmas. Puskesmas didalam
melaksanakan program Kadarzi dibantu oleh
Pokja
Posyandu, Gizi, KIA/KB
dan dilaksanakan oleh Bidan dibantu oleh kader. Dalam pergerakannya,
posyandu dimonitori oleh kader terpilih dari wilayah sendiri yang terlatih
untuk melaksanakan kegiatan rutin di posyandu maupun di luar hari buka Posyandu.
ü Kader
posyandu adalah seorang yang berasal dari daerah itu sendiri karena
kecakapannya atau kemampuannya
diangkat, dipilih dan atau ditunjuk untuk memimpin pengembangan posyandu disuatu tempat atau desa.
Sebagai kelompok yang terjun langsung berhubungan dengan masyarakat, sudah
cukup dikenal di masyarakat dan tentunya mengenal kebudayaan di masyarakat itu sendiri, cukup dihormati dan berpengaruh, memiliki waktu yang
lebih luang untuk konseling maka kader kesehatan ini dapat
diberdayakan untuk menginformasikan masalah gizi tersebut agar masalah-masalah
gizi di masyarakat tersebut dapat teratasi dengan lebih efektif dan efisien.
Berdasarkan uraian diatas, maka kami
bermaksud untuk memberikan pembekalan atau Pelatihan Kader Sadar Gizi (Pakardarzi)
agar dapat melaksanakan fungsinya di masyarakat membatu keluarga mencapai
Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).
B.
TUJUAN
1.
Tujuan
Umum :
Memberdayakan kader
kesehatan posyandu sebagai upaya tercapainya program Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)
di Kecamatan Losari.
2.
Tujuan
Khusus :
1) Kader
Kesehatan mempunyai pengetahuan tentang gangguan gizi dan cara pencegahannya.
2) Mampu
melakukan pembinaan atau konseling tentang gizi terhadap keluarga yang menjadi
tanggung jawabnya.
3) Mengupayakan
keluarga binaan untuk membawa balita ke posyandu setiap bulan.
4) Melakukan
deteksi dini gangguan gizi danberupaya untuk merujuk balita dan wanita usia subur
yang mengalami gangguan gizi ke petugas kesehatan.
C.
NAMA
KEGIATAN
Kegiatan ini dinamakan “Strategi
Pembinaan Kader Posyandu Melalui Pelatihan Kader Sadar Gizi (Pakardarzi) di
Kecamatan Losari Tahun 2019”.
D.
TEMA
KEGIATAN
Kegiatan ini bertema “Pendamping Istimewa Keluarga Sadar
Gizi (Kadarzi)”.
E.
SASARAN
1. Kader
posyanduyang berada di wilayah setempat.
2. Lintas Sektor
terkait di setiap
jenjang administrasi (disesuaikan
kondisi setempat).
F.
WAKTU
DAN TEMPAT PELAKSANAAN
1.
Waktu
Pelaksanakan
Waktu : 10-12 Januari 2020
Pukul : 08.00 s.d. 16.00
2.
Tempat
Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan pelatihan
dapat dilakukan di gedung pertemuan puskesmas.
G.
LEMBAGA
YANG BERPARTISIPASI
Lembaga yang
berpartisipasi untuk menyukseskan kegiatan ini antara lain:
1.
Pemerintah setempat, antara lain
pemimpin kecamatan, kepala desa, ketua RT dan RW.
2.
Tokoh masyarakat, seperti tokoh adat dan
tokoh agama.
3.
Petugas kesehatan wilayah setempat,
antara lain dokter dan bidan puskesmas.
4.
Tenaga ahli dalam hal ini ahli gizi.
5.
Kader posyandu yang ada di wilayah
kecamatan/kelurahan setempat.
H.
PESERTA
PELATIHAN KADER SADAR GIZI
Peserta
Pelatihan Kader Sadar Gizi (Pakardarzi) meliputi seluruh kader posyandu di
daerah setempat, tokoh agama, adat, dan masyarakat akan diundang sebagai
peserta tamu.
I.
OUT
PUT
1. Mampu mengaplikasikan peran dan fungsinya sebagai
kader, pengelola posyandu dan melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi
terhadap masyarakat.
2. Diharapkan akan terjadi peningkatan kemampuan
keterampilan bagi kader posyandu dalam melaksanakan tugas penggerakkan dan
pemberdayaan masyarakat.
3. Peningkatan cakupankeluargaygdibina sebagai KeluargaSadarGizi (Kadarzi)
4. Peningkatan cakupan ASI eksklusif pada bayi 0-6
bulan.
5. Peningkatan cakupan pemberian Vitamin A pada ibu dan bayi.
6. Peningkatan cakupan pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil.
7. Peningkatan cakupankeluarga menggunkangaram ber-yodium.
J.
BENTUK
KEGIATAN
Bentuk
kegiatan dari pelatihan kader sadar gizi (Pakardarzi) adalah pemberian
pembekalan, penyampaian materi oleh bidan dan ahli gizi berkaitan dengan
masalah-masalah gizi yang ada di masyarakat dengan metode ceramah, diskusi,
pemutaran video, roll model dan praktik.
K.
PEMATERI
DAN FASILISATOR
Pemateri dalam kegiatan Pelatihan Kader Sadar Gizi antara lain dari anggota tenaga kesehatan, baik itu dokter, bidan, perawat, dan farmasi, terutama adalah penyampaian materi dari tenaga ahli gizi, sebagai fokus utama topik pelatihan.
Fasilitator
merupakan tenaga kesehatan yang membantu kader memahami materi yang
disampaikan, fasilitator ini bergantian antar anggota puskesmas, karena tidak
memungkinkan jika seluruh tenaga kesehatan keluar untuk mengikuti materi yang
disampaikan.
L.
METODE
PENYAMPAIAN MATERI DALAM PELATIHAN
Metode
penyampaian materi dalam arisan kepada dukun bayi adalah presentasi menggunakan
power point, ceramah, diskusi, pemutaran video, tutorial atau peragaan langsung
menggunakan pasien atau phantom oleh pemateri.
M.
SETTING
SAAT PENYAMPAIAN MATERI
Pada
saat penyampaian materi dukun bayi dan tenaga kesehatan duduk melingkar saling
berhadapan.

N.
ALAT
BANTU
Adapun
alat bantu yang digunakan dalam proses pemberian materi disesuaikan materi yang
disampaikan, diantaranya:
1.
Phantom
2.
Banner/pamflet tentang tanda bahaya
kehamilan, persalinan, nifas, BBL.
3.
Miniatur sayuran dan buah
4.
Video pendukung
5.
Laptop
6.
LCD dan proyektor
7.
Buku catatan perkembangan kesehatan/ KMS
O.
KLASIFIKASI
MATERI
Terlampir
P.
PROSES
PENYAMPAIAN MATERI
a.
Persiapan
Adapun persiapan
dalam proses pelatihan kader sadar gizi ini adalah :
· Menyiapkan tempat
penyampaian materi.
· Mengkondisikan kader
yang akan mengikuti penyampaian materi.
· Menyiapkan pemateri
yang terlatih dan mampu.
· Menyiapkan alat
bantu, media, dan metode yang akan digunakan.
· Menyiapkan materi
yang akan dibawakan.
· Menyiapkan snack
untuk konsumsi.
b. Pelaksanaan
Rencana Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan kader
posyandu
No
|
Kegiatan Pelatihan
|
Kegiatan Bidan
|
Kegiatan Kader
|
Waktu
|
Media
|
1.
|
Kegiatan awal
|
1.
Absensi
|
1.
absendi
|
10menit
|
Form absen
|
2.
Pembagian Snack
|
2.
Pembagian Snack
|
2 menit
|
|||
3.
Mempersilahkan dan memberi salam
|
3.
Menjawab salam
|
1 menit
|
|||
4.
Memperkenalkan diri
|
4.
Menyimak dan mendengarkan
|
3 menit
|
|||
5.
Menjelaskan tujuan dan pokok bahasan
|
5.
Mendengar dan menyimak
|
3 menit
|
|||
6.
Melakukan pre-test
|
6.
Menjawab soal pre-test
|
5 menit
|
|||
7.
Menggali permasalahan
|
7.
Menjawab pertanyaan dan memberi informasi
|
3 menit
|
|||
7.
Menyimpulkan permasalahan sementara
|
8.
Mendengar dan menyimak
|
8 menit
|
|||
8.
Menampilkan video
|
9.
Menonton video dengan baik
|
9 menit
|
LCD
|
||
2.
|
Kegiatan inti
|
1. Menjelaskan materi
|
1. Menyimak, bertanya
dan memperhatikan
|
20 menit
|
Diskusi bersama (sharing dengan Tanya jawab)
|
2. Mempraktikan
secara langsung sesuai pembahasan
|
2. Ikut terlibat
dalam praktik
|
25 menit
|
Phantom dan alat bantu
|
||
3. Melakukan evaluasi
dengan pembagian masing-masing kelompok dukun bayi untuk mempraktikan secara
langsung apa-apa saja yang telah dipahami.
|
3. Ikut antusias
|
15 menit
|
|||
4. Memberi kesempatan
dukun bayi bertanya
|
4. Bertanya
|
5 menit
|
|||
5. Menyimpulkan
|
5. Menyimak dan
memperhatikan
|
3 menit
|
|||
6. Memberikan
post-test
|
6. Menjawab soal
post-test
|
||||
3.
|
Penutup
|
1. Memberikan ucapan
terima kasih dan salam penutup
|
1. Mendengar dan
menjawab
|
2 menit
|
Q.
MONITORING DAN EVALUASI
Dalam pelaksanaan
monitoring dan evaluasi maka setelah pelatihan akan diadakan sebuah Arisan
Bidan dan Kader Sadar Gizi (Abikadarzi). Arisan ini dilaksanakan setiap bulan,
sebagaimana arisan pada umumnya akan disepakati arisan apa yang akan dilakukan,
lokasi arisan setiap bulan akan disesuaikan dengan keadaan dan dilakukan
bergantian di rumah anggota. Peserta arisan meliputi seluruh kader dan bidan di
Puskesmas. Arisan ini akan dilakukan dua hari sebelum posyandu dilaksanakan dan
akan tetap intensif dilakukan hingga keadaan gizi masyarakat di kecamatan
Losari membaik.
Di dalam arisan ini
akan diselipkan kegiatan monitoring program yang sedang berjalan, perkembangan
program dan hambatan pelaksanaan program. Aspek yang akan dinilai dalam
monitoring bulanan ini meliputi ketepatan dan pengelolaan waktu pelaksanaan,
ketepatan penggunaan metode, adanya penjelasan metode, dan kesesuaian
penggunaan media, perkembangan masalah-masalah melalui pencatatan dan pelaporan.
Dalam arisan bulanan
ini, kader harus melaporkan temuan-temuan yang ada di masyarakat berkaitan
dengan masalah gizi pada masyarakat yang berada di wilayah yang menjadi
tanggung jawabnya, kader pun bisa meminta pendapat bidan dan rekan sejawat
dalam melakukan tindakan, dan bila perlu akan dilakukan home visit oleh bidan.
Selain itu akan
diselipkan sedikit materi tentang kesehatan ibu dan anak agar kader semakin
berkompeten, juga sebagai revitalisasi kader dalam melaksanakan tugas untuk
mencapai keluarga sadar gizi (Kadarzi) yang optimal.
Yang akan dievaluasi
pada pelatihan ini adalah pengetahuan kader dan kemampuan kader dalam melakukan
konseling serta pembinaan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).
R.
PENUTUP
Kerjasama
yang saling menguntungkan
antara bidan dengan
kader posyandu sangat
diperlukan untuk mengupayakan penurunan masalah-masalah gizi
pada ibu dan bayi di Indonesia, sehingga program Keluarga Sadar Gizi dapat
terlaksana dengan baik dan memiliki hasil yang maksimal.
S.
SUMBER
Departemen
Kesehatan RI. 2007. Pedoman Strategi KIE Keluarga Sadar Gizi (KADARZI).
Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Gunanti,lnong
Retno., Shrimarly Rukmini Devi, Merryana Adrlani. 2005.Pemberdayaan Kader Posyandu
Melalui Penerapan Metode Konseling Glzl Dalam Upaya meningkatkan Kualitas Pembinaan
Program Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
8(1): 47-58.
Kementerian
Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2018. Hasil Utama
Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI
Kosasih,Cecep
Eli., Chandra Isabella Hostanida Purba, Aat Sriati. 2018. Upaya Peningkatan
Gizi Balita Melalui Pelatihan Kader Kesehatan. MKK. 1(1):90-100
Notoatdmojo,
S. (2003). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Siagian, A.
2006. Gizi, Imunitas, dan Penyakit Infeksi. Info kesehatan masyarakat vol. X
no 2. Jakarta: EGC
Supariasa, I
D.N., Bakri, B., Fajar, I. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta : EGC
University Press.
Sandiyani, R.
A. & Mulyati, T. 2011. Pengetahuan Gizi, Sikap, Frekuensi Pelatihan, dan
Lama Menjadi Kader dengan Perilaku Penyampaian PUGS.
Tim Basics.
2014. Panduan Penerapan Praktik Cerdas Kemitraan Bidan, Dukun Bayi, dan
Kader Posyandu. Jakarta: Kementerian Dalam Negeri RI.
UNICEF. 1998. Nutrition
Essentials. A Guide for Health Managers
MATERI 1
PEMANTAUAN PERTUMBUHAN: MENIMBANG BERAT BADAN SECARA
TERATUR SETIAP BULAN
1.
Apa manfaat menimbang berat badan anak secara teratur setiap
bulan?
v Mengetahui
pertumbuhan anak, karena pertambahan berat badan anak mencerminkan kesehatan
anak. Anak sehat bertambah umur bertambah berat badannya.
2.
Bagaimana cara membaca grafik pertumbuhan pada KMS?
v Berat Badan
Naik (N), bila:
·
Hasil penimbangan bulan ini sama atau lebih dari
kenaikan berat badan minimum.
·
Garis pertumbuhannya naik mengikuti salah satu pita warna.
·
Garis pertumbuhannya pindah ke pita warna di
atasnya.
v Berat Badan
Tidak Naik (T), bila:
·
Berat badan hasil penimbangan bulan ini sama atau
kurang dari berat badan minimum.
·
Garis pertumbuhannya menurun.
·
Berat badan tetap, garis pertumbuhannya mendatar.
·
Berat badan naik, tetapi garis pertumbuhannya pindah
ke pita warna di bawahnya.
v Disebut Bawah
Garis Merah (BGM), bila:
·
Garis pertumbuhan anak berada di bawah garis merah.
3.
Apa yang seharusnya dilakukan jika grafik berat badan
anak berada di bawah garis merah?
v Anak segera
dibawa ke Puskesmas/RS untuk diperiksa kesehatannya lebih lanjut.
v Bila anak
berusia di bawah 24 bulan, tetap diberi ASI sesering mungkin tanpa dijadwal
(pagi, siang, sore, malam).
v Diberikan
makanan bergizi sesuai umur.
v Anak
ditimbang setiap bulan.
4.
Apa yang
seharusnya dilakukan bagi bayi berumur 0-6 bulan?
v Diberi ASI
saja sesering mungkin tanpa dijadwal (pagi, siang, sore, malam).
v Ibu
dianjurkan mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang 1-2 piring lebih banyak
dari biasa, serta minum paling sedikit 8 gelas air putih, agar ASI memenuhi
kebutuhan bayi.
v Anak
ditimbang setiap bulan.
5.
Apa yang seharusnya dilakukan bagi bayi berumur 6-9 bulan?
v Diberi ASI
sesering mungkin tanpa dijadwal (pagi, siang, sore, malam).
v Diberikan
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) dalam
bentuk lumat diberikan secara bertahap
tiga kali sehari sesuai umurnya, dengan takaran sebagai berikut:
·
7 bulan: 7 sendok makan
·
8 bulan: 8 sendok makan
·
9 bulan: 9 sendok makan
v MP-ASI dapat
berupa nasi tim halus, bubur tepung beras, bubur susu, biskuit atau buah
(pisang atau pepaya).
v Nasi tim
halus dibuat dari bubur nasi + 1 butir kuning telur atau 1 potong ikan + 1
potong tempe/tahu + 2 sdm wortel/bayam cincang + 1 sdm minyak goreng/margarine.
v Bubur tepung
beras dibuat dari 3 sdm tepung beras + 2 sdt gula pasir + ¾ gelas air atau ½
mangkuk. Diberikan kapsul vitamin A warna biru pada bulan Februari dan
Agustus.
v Anak
ditimbang setiap bulan.
6.
Apa yang seharusnya dilakukan bagi bayi berumur 9-12 bulan?
v Diberi ASI
sesering mungkin tanpa dijadwal (pagi, siang, sore, malam).
v Mulai
diperkenalkan makanan keluarga yang beraneka ragam.
Berikan makanan 3 kali sehari dengan
jumlah yang cukup dan seimbang, setiap kali makan teridiri dari: ¾ mangkuk (7
sdm) nasi tim atau nasi lembek, 1 butir kuning telur atau 1 potong ikan, 1
potong tempe/tahu, 2 sdm wortel/bayam cincang dan 1 sdm minyak goreng/margarine.
v Diberikan
makanan selingan 1 kali sehari seperti 2 buah biskuit atau ½ gelas bubur kacang
hijau dan 1 buah pisang atau 1 buah pepaya.
v Diberikan
kapsul vitamin A warna biru pada anaknya setiap bulan Februari dan Agustus.
v Anak
ditimbang setiap bulan.
7.
Apa yang seharusnya dilakukan bagi anak berumur 13-59 bulan?
v Diberi ASI
sesering mungkin tanpa dijadwal bagi anak berumur kurang dari 24 bulan (pagi,
siang, sore, malam).
v Mulai
diperkenalkan makanan keluarga yang beraneka ragam. Berikan makanan 3 kali
sehari dengan jumlah yang cukup dan seimbang, setiap kali makan terdiri dari: 1
mangkuk (sekitar 10sdm) nasi, 1 butir kuning telur atau 1 potong
ikan/ayam/daging, 1 potong tempe/tahu, 1/2 mangkuk sayur dan 1 sdm minyak
goreng/margarine.
v Ditambahkan
makanan selingan 2 kali sehari seperti biskuit, bubur kacang hijau dan
buah-buahan.
v Diberikan
kapsul vitamin A warna merah pada anaknya setiap bulan Februari dan Agustus.
v Anak
ditimbang setiap bulan.
MATERI 2
ASI EKSKLUSIF
1.
Apa manfaat
menyusu (pemberian ASI) bagi bayi?
v ASI memiliki kandungan zat gizi yang sangat lengkap
untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan (kecerdasan) bayi sampai usia 6
bulan.
v ASI dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
v Meningkatkan jalinan kasih sayang antara bayi dan
ibu.
v ASI mudah dicerna dan digunakan oleh tubuh bayi.
v Melindungi bayi terhadap infeksi seperti diare,
radang paru-paru, infeksi telinga, flu, radang otak, dan infeksi saluran
kencing.
v Menurunkan risiko terhadap tekanan darah tinggi dan
obesitas pada usia dewasa.
2.
Apa pengertian
pemberian ASI Eksklusif?
v Pemberian ASI eksklusif adalah memberikan ASI saja
(bagi bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan. Bila diperlukan bayi diperbolehkan
minum obat-obatan, vitamin dan mineral tetes atas saran dokter.
v Bayi tidak diberikan makanan atau minuman lain (susu
formula, jeruk, madu, air teh, dan tanpa makanan padat seperti pisang, pepaya,
bubur susu, bubur nasi, biskuit dan nasi tim), termasuk air minum sampai usia 6
bulan.
3.
Apakah ASI
tetap diberikan setelah bayi berusia 6 bulan?
v Ya, ASI tetap diberikan sampai anak berusia 2 tahun.
Setelah usia 6 bulan bayi harus mulai diperkenalkan dengan Makanan Pendamping
ASI (MP-ASI).
4.
Apa yang
dimaksud dengan kolostrum?
v Kolostrum adalah ASI yang pertama kali keluar
setelah kelahiran bayi, berwarna kekuning-kuningan dan lebih kental.
v Kolostrum banyak mengandung protein, vitamin,
mineral dan zat kekebalan tubuh yang penting untuk melindungi bayi dari
penyakit dan infeksi. Jumlah kolostrum yang diproduksi, bervariasi tergantung
dari hisapan bayi pada hari-hari pertama kelahiran, walaupun sedikit namun
cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi, oleh karena itu harus diberikan
kepada bayi.
5.
Apa manfaat
memberikan ASI bagi ibu?
v Mengurangi perdarahan setelah melahirkan.
v Mencegah/mengurangi terjadinya anemia.
v Menunda kembalinya kesuburan ibu sesudah melahirkan,
sehingga dapat menjaga waktu hingga kehamilan berikutnya.
v Membantu rahim kembali ke ukuran semula.
v Mempercepat langsing kembali.
v Mengurangi kemungkinan menderita kanker ovarium, dan
kanker payudara.
v Lebih ekonomis karena tidak harus dibeli.
v Tidak merepotkan dan hemat waktu.
6.
Bagaimana cara
menyusui yang baik dan benar?
v Sebaiknya sebelum menyusui, ibu mencuci tangan
terlebih dahulu.
v Ibu dan bayi harus berada dalam keadaan santai,
tenang dan nyaman.
v Letakkan kepala kepala bayi pada lengkung siku ibu,
telinga dan bahu bayi terletak pada satu garis lurus, kepala bayi agak menengadah.
v Saat mulai menyusui peganglah bagian bawah payudara dengan
keempat jari dan ibu jari diletakkan di bagian atas payudara.
v Sentuhan puting pada bibir atau pipi bayi untuk
merangsang agar mulut bayi terbuka lebar.
v Masukkan seluruh puting dan sebagian besar lingkaran
di sekitar puting (areola) ke mulut bayi.
v Dagu bayi harus melekat pada payudara ibu.
MATERI
3
MAKAN
BERANEKARAGAM MAKANAN
1.
Apa yang
dimaksud dengan makan beranekaragam?
v Makan beranekaragam adalah makan berbagai jenis
bahan makanan terdiri dari makanan sumber zat tenaga (karbohidrat dan lemak),
zat pembangun (protein), dan zat pengatur (vitamin dan mineral) yang memenuhi
kecukupan gizi yang dianjurkan.
2.
Mengapa tubuh
memerlukan makanan yang beranekaragam?
v Karena tidak ada satupun jenis makanan yang
mengandung zat gizi lengkap untuk mencukupi kebutuhan tubuh, selain ASI.
v Makin beragam makanan yang dikonsumsi, makin lengkap
dan tinggi kualitas zat gizi yang diperoleh.
3.
Apa yang
dimaksud dengan makanan sumber zat tenaga?
v Makanan sumber zat tenaga adalah makanan yang
mengandung tinggi karbohidrat dan lemak yang diperlukan tubuh untuk melakukan
aktivitas sehari-hari.
v Sumber zat tenaga dapat diperoleh dari makanan pokok
(nasi, jagung, ubi, sagu, tepung-tepungan) dan sumber lemak (minyak, santan,
lemak hewani).
4.
Apa yang
dimaksud dengan makanan sumber zat pembangun?
v Makanan sumber zat pembangun adalah makanan yang mengandung
protein yang diperlukan tubuh untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel tubuh
yang sudah rusak.
v Sumber zat pembangun banyak terdapat pada lauk pauk
nabati (tempe, tahu, dll) dan hewani (daging, ikan, dll).
5.
Apa yang
dimaksud dengan makanan sumber zat pengatur?
v Makanan sumber zat pengatur adalah makanan yang
mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan tubuh untuk pemeliharaan badan
dan membantu pencernaan.
v Sumber zat pengatur banyak terdapat pada sayuran dan
buah.
6.
Bagaimana susunan
makanan beranekaragam?
v Makanan beranekaragam terdiri dari: Makanan pokok +
Lauk Hewani + Lauk Nabati + Sayuran + Buah. Contohnya: nasi + telur dadar +
tempe bacem + sayur bayam + pepaya.
v Jumlah makanan yang dibutuhkan berbeda menurut umur,
jenis kelamin dan tingkat aktivitas fisik.
MATERI
4
YODIUM
1.
Apakah
kegunaan yodium bagi tubuh?
v Untuk produksi hormon tiroid, yaitu hormon yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan saraf, pertumbuhan tulang dan
perkembangan otak.
v Untuk pembentukan sel darah merah dan menjaga
keseimbangan metabolisme tubuh.
2.
Apa akibat
kekurangan yodium?
v Kekurangan yodium pada usia dini berdampak pada
terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan.
v Kekurangan yodium dapat menyebabkan tekanan darah
rendah dan aktivitas menjadi lambat.
v Mengakibatkan gangguan kecerdasan.
3.
Apa saja
ciri-ciri gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY)
v Pembesaran kelenjar gondok
v Terhambatnya pertumbuhan (pendek, kretin/cebol)
v Gangguan perkembangan mental
v Gangguan perkembangan saraf otak (gangguan
kecerdasan, bisu, tuli dan juling)
4.
Apa saja
pangan sumber yodium?
v Bahan makanan yang mengandung yodium tinggi adalah
ikan, kerang-kerangan dan rumput laut.
5.
Apa yang dimaksud
dengan garam beryodium?
v Garam beryodium adalah garam yang telah diperkaya
dengan yodium (KIO3) sebanyak 30-80 ppm.
6.
Mengapa perlu
mengkonsumsi garam beryodium?
v Pada umumnya makanan yang dikonsumsi sehari-hari
mengandung yodium yang sangat sedikit.
v Menggunakan garam beryodium untuk keperluan memasak
sehari-hari dapat memenuhi kebutuhan yodium bagi tubuh.
7.
Bagaimana
bentuk garam beryodium?
v Dalam bentuk garam halus atau garam bata. Pada
kemasan harus tertera tulisan “Garam Beryodium”.
8.
Bagaimana cara
menyimpan garam beryodium?
v Simpan dalam wadah yang kering dan tertutup rapat.
v Letakkan di tempat yang sejuk dan hindarkan dari
sinar matahari langsung.
9.
Bagaimana cara
mengetahui garam mengandung yodium?
v Diuji dengan cairan uji Iodina:
· teteskan pada garam,
bila garam berubah warna menjadi
ungu berarti garam mengandung yodium.
v Diuji dengan perasan
singkong parut:
· teteskan pada garam, bila garam berubah warna
menjadi ungu berarti garam mengandung
yodium.
MATERI
5
SUPLEMEN
GIZI: VITAMIN A
1.
Apa kegunaan
vitamin A?
v Meningkatkan kesehatan mata dan mencegah rabun
senja.
v Meningkatkan daya tahan tubuh untuk melawan
penyakit.
2.
Apa makanan
sumber vitamin A?
v Vitamin A dapat diperoleh dari ASI dan makanan yang
berasal dari bahan hewani (susu, daging, hati, telur) dan nabati (sayuran hijau
dan buah-buahan berwarna).
3.
Apa ciri awal
gangguan kekurangan vitamin A pada mata?
v Buta senja/rabun senja, ditandai dengan kesulitan
melihat dalam cahaya remang atau senja hari.
v Bila tidak segera mengkonsumsi vitamin A, akan
timbul bercak putih pada mata, selanjutnya seluruh mata mengalami kerusakan dan
akhirnya buta.
4.
Siapa yang
dianjurkan mengkonsumsi suplemen/kapsul vitamin A?
v Bayi berumur 6-11 bulan
v Anak berumur 1-5 tahun
v Ibu nifas
5.
Manfaat suplemen/kapsul
vitamin A untuk bayi/anak?
v Bayi/anak lebih kebal dan jarang kena penyakit.
6.
Manfaat
suplemen/kapsul vitamin A untuk ibu nifas?
v Meningkatkan kandungan vitamin A dalam ASI.
v Kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan.
7.
Berapa jumlah
kapsul vitamin A yang diberikan menurut kelompok umur?
v Bayi berusia 6-11 bulan: satu kapsul vitamin A warna
biru.
v Balita 1-5 tahun: dua kapsul vitamin A warna merah
setiap tahun, masing-masing satu kapsul diberikan pada bulan Februari dan Agustus.
v Ibu nifas: dua kapsul vitamin A warna merah, satu
kapsul dikonsumsi segera setelah melahirkan dan satu kapsul lagi dikonsumsi
paling lambat 28 hari setelah melahirkan.
MATERI
6
ZAT
BESI
1.
Apa kegunaan
zat besi?
v Zat besi berguna untuk pembentukan sel darah merah.
Karena itu bila orang kurang zat besi disebut kurang darah atau anemia gizi.
2.
Apa gejala
anemia gizi?
v Gejala anemia gizi sering disebut 5-L dan 2-P,
yaitu:
·
Lelah
·
Lesu
·
Lemah
·
Letih
·
Lalai
·
Pucat
·
Pusing
3.
Apa saja
makanan sumber zat besi?
v Zat besi dapat diperoleh dari makanan yang berasal
dari bahan hewani (daging, hati, ikan, telur, susu) dan nabati (sayuran hijau).
4.
Mengapa wanita
membutuhkan lebih banyak zat gizi besi?
v Golongan wanita yangmembutuhkan lebih banyak zat
gizi besi.
·
Ibu nifas
·
Ibu hamil
·
Ibu menyusui
·
Remaja putri
v Karena peristiwa kodrati wanita (haid, hamil,
melahirkan, menyusui) menyebabkan kebutuhan zat besi relatif lebih tinggi
dibanding kelompok lain.
5.
Bagaimana cara
mengatasi anemi gizi besi ketika hamil?
v Ibu hamil perlu makan lebih banyak dan lebih
beragam, terutama lauk hewani (ikan, hati, daging, telur, susu) dan sayuran
hijau (daun singkong, bayam, kangkung, daun pepaya, sawi dan sayuran hijau
lainnya)
v Minum tablet tambah darah.
6.
Apa manfaat
minum tablet tambah darah bagi ibu hamil?
v Menghilangkan rasa lemas, mudah lelah,
pusing-pusing, mata berkunang-kunang dan muka pucat.
v Badan terasa lebih bertenaga dan bersemangat.
v Dapat memperlancar persalinan.
v Mempercepat ASI keluar setelah melahirkan.
v Dapat mencegah perdarahan ketika melahirkan.
7.
Berapa jumlah
tablet tambah darah yang dikonsumsi oleh ibu hamil?
v Ibu hamil mengkonsumsi 90 tablet tambah darah sejak
awal kehamilan.

Komentar
Posting Komentar