PROPOSAL KEGIATAN PEMBINAAN DUKUN BAYI



PROPOSAL KEGIATAN PEMBINAAN DUKUN BAYI
MELALUI ARISAN DUKUN BAYI

Proposal Ini Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individu
Mata Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan
Masyarakat(PPM)




OLEH :

RITA RUKMAWATI
PO.71.24.2.17.031



DOSEN PENGAMPU : ASRI NOVIYANTI, SST., M.Keb.



KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2019
A.           LATAR BELAKANG
Keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia masih belum memuaskan, terbukti dari  masih  tingginya  Angka  Kematian  Ibu  (AKI)  dan  Angka  Kematian Bayi  (AKB).  Kematian  dan  kesakitan  ibu  hamil,  bersalin, nifas  dan  bayi  baru lahir  masih  merupakan  masalah  besar  negara  berkembang  termasuk Indonesia.  Di  Negara-negara  miskin,  sekitar  25    50%  kematian  wanita  usia subur disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan  nifas.  WHO  memperkirakan  diseluruh  dunia  setiap tahunnya  lebih  dari 585.000 ibu meninggal pada saat hamil atau bersalin.
Menanggapi  masalah  kematian  ibu  yang  demikian  besar,  tahun  1987  untuk pertama kalinya di tingkat Internasional diadakan konferensi tentang kematian ibu di Nairobi, Kenya yang menyepakati peningkatan  upaya bagi kesehatan ibu atau Safe Motherhood. Kemudian pada tahun 1990 World Summit for Children di  New  York,  Amerika  Serikat  yang  dihadiri  127  negara  termasuk  Indonesia, membuahkan  7  tujuan  utama,  diantaranya  menurunkan  AKI  menjadi  50  % pada tahun 2000.
Program Safe Motherhood mulai tahun 1990, salah satu terobosannya adalah menempatkan tenaga bidan di setiap desa dan melatih dukun bayi serta dilengkapi dengan dukun kit, sehingga diharapkan dukun yang sudah dilatih mampu dan mau menerapkan persalinan 3 bersih (bersih tempat, alat dan cara).
Upaya Making Pregnancy Safer (MPS) dengan 3 pesan kunci yaitu (1) setiap persalinan  ditolong  oleh  tenaga  kesehatan  terlatih  (2)  setiap  komplikasi obstetric dan neonatal ditangani mendapat pelayanan adekuat (3) setiap wanita usia  subur  mempunyai  akses  terhadap  pencegahan  kehamilan  yang  tidak diinginkan dan penanganan komplikasi.
Dari  hasil  survey  WHO  dan  Departemen  Kesehatan  ternyata  penurunan  AKI tidak  sesuai  target  yang  diharapkan  dan  dukun  yang  sudah  dilatih  ternyata kembali pada prilaku semula.
Dari hasil SDKI 1991-2017 dan SUPAS 2015 derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih belum  memuaskan,  ditandai  oleh  tingginya  Angka  Kematian  Ibu  (AKI),  yaitu 305/100.000 KH, sedangkan angka kematian bayi 24/1000 KH. kematian Ibu menurut Pusat Data dan Informasi Ibu (Infodatin-Ibu) 2014 adalah perdarahan 30,3%, hipertensi 27,1%, infeksi 7,3%, dan lain-lain 40,8%. Kondisi ini diperburuk dengan masih tingginya kehamilan dengan 4 terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering dan terlalu banyak) sebanyak 62,7%. Sedangkan penyebab kematian bayi baru lahir (neonatal) di Indonesia adalah asfiksia 27%,  komplikasi  pada  bayi  baru  lahir  rendah  29%,  tetanus  neonatorum  10%, masalah pemberian makanan 10%, infeksi 5%, gangguan hematologik 6%, dan lain-lain 13%.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terjadinya kematian ibu maupun bayi  adalah  faktor  pelayanan  yang  sangat  dipengaruhi  oleh  kemampuan  dan keterampilan  tenaga  kesehatan  sebagai  penolong  pertama  pada  persalinan tersebut,  di mana  sesuai  dengan  pesan  pertama  kunci MPS  yaitu  setiap persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Di samping itu, masih  tingginya  persalinan  di  rumah  dan  masalah  yang  terkait  budaya  dan perilaku  dan  tanda-tanda  sakit  pada  neonatal  yang  sulit  dikenali,  juga merupakan penyebab kematian bayi baru lahir.
Menurut  hasil  penelitian  dari  97  negara  bahwa  ada  korelasi  yang  signifikan antara  pertolongan  persalinan  dengan  kematian  ibu.  Semakin  tinggi  cakupan persalinan  oleh  tenaga  kesehatan  di  suatu  wilayah  akan  diikuti  penurunan kematian ibu di wilayah tersebut.  Namun  sampai  saat  ini  di  wilayah  Indonesia  masih  banyak  pertolongan persalinan   dilakukan  oleh  dukun  bayi  yang  masih  menggunakan  cara-cara tradisional  sehingga  banyak  merugikan  dan  membahayakan  keselamatan  ibu dan bayi baru lahir.
Di  beberapa  daerah,  keberadaan  dukun  bayi  sebagai  orang yang dianggap terampil dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan, perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.(Dep Kes RI. 1994 : 2). Berbeda  dengan  keberadaan bidan  yang  rata-rata  masih  muda  dan  belum  seluruhnya  mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Sehingga  perlu  dicari  suatu  kegiatan  yang  dapat  membuat  kerjasama  yang saling  menguntungkan  antara  bidan  dengan  dukun  bayi,  dengan  harapan pertolongan  persalinan  akan  berpindah  dari  dukun  bayi  ke  bidan.  Kedudukan dukun bayi di masyarakat yang dipandang sebagai panutan pun dapat dimanfaatkan sebagai media untuk menyebarluaskan infomasi kesehatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebidanan. Dengan demikian,  kematian  ibu  dan  bayi  diharapkan  dapat  diturunkan  dengan mengurangi  risiko  yang  mungkin  terjadi  bila  persalinan  tidak  ditolong  oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun bayi.
Arisan sendiri dipilih sebagai kegiatan sudah umum dilakukan dimasyaakat, merupakan acara yang menarik dan tidak terlalu formal, bersifat rutin dalam periode tertentu, dapat divariasikan dengan kegiatan-kegiatan seperti pemberian materi dan keterampilan, serta kegiatan simpan pinjam antar anggota dengan demikian diharapkan terjalin hubungan dan kerjasama yang baik diantara bidan desa dan dukun bayi setempat secara terus menerus.
Dalam pola kemitraan bidan dengan dukun bayi berbagai elemen masyarakat yang ada  dilibatkan  sebagai  unsur  yang  dapat  memberikan  dukungan  dalam kesuksesan pelaksanaan kegiatan ini.

B.            TUJUAN
1.        Tujuan Umum :
Meningkatnya  akses  Ibu  dan  bayi  terhadap  pelayanan  kebidanan berkualitas.

2.        Tujuan Khusus :
                                   a.        Meningkatkan  rujukan  persalinan,  pelayanan  antenatal,  nifas  dan bayi oleh dukun bayi ke tenaga kesehatan yang kompeten.
                                  b.        Meningkatkan  alih  peran  dukun bayi  dari  penolong  persalinan  menjadi mitra Bidan dalam merawat Ibu Nifas dan Bayinya.
                                   c.        Meningkatkan  persalinan  oleh  tenaga  kesehatan  yang  memiliki kompetensi kebidanan.
                                  d.        Menjalin hubungan dan kerjasama yang baik antara bidan dan dukun bayi secara berkelanjutan.
                                   e.        Meningkatkan pengetahuan dukun bayi mengenai kesehatan ibu dan bayi.

C.           SASARAN
1.      Dukun bayi yang berada di wilayah setempat.
2.      Pengelola  dan  Penanggung  Jawab  Program  KIA/KB,  Promkes  dan Perencanaan di Propinsi, Kab/Kota dan Puskesmas.
3.      Lintas  Sektor  terkait  di  setiap  jenjang  administrasi  (disesuaikan  kondisi setempat).
4.      Bidan koordinator dan bidan puskesmas

D.           LEMBAGA YANG BERPARTISIPASI
Lembaga yang berpartisipasi untuk menyukseskan kegiatan ini antara lain:
                  1.          Pemerintah setempat, antara lain pemimpin kecamatan, kepala desa, ketua RT dan RW.
                  2.          Tokoh masyarakat, seperti tokoh adat dan tokoh agama.
                  3.          Petugas kesehatan wilayah setempat, antara lain dokter dan bidan puskesmas.
                  4.          Dukun bayi yang ada di wilayah kecamatan/kelurahan setempat.

E.            PESERTA ARISAN DUKUN BAYI
Peserta arisan dukun bayi adalah seluruh dukun bayi yang berada di wilayah kecamatan/kelurahan setempat bersama seluruh petugas kesehatan penanggung jawab wilayah setempat seperti bidan desa, kader, dokter dan bidan puskesmas.

F.            BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan dari arisan dukun bayi ini adalah sebagaimana kegiatan arisan pada umumnya, arisan bisa disepakati berupa arisan barang atau arisan uang, didalamnya akan dimasukkan kegiatan pemberian materi tentang kebijakan-kebijakan pemerintah berkaitan tentang ibu dan anak, program-program yang sedang dijalani, peran bidan dan dukun bayi di masyarakat, serta materi-materi kesehatan ibu dan anak yang akan meningkatkan keterampilan dukun bayi, pemutaran video cara perawatan fisik ibu dan bayi setelah persalinan, tutorial perawatan bayi baru lahir dari petugas kesehatan, tanya jawab, sharing ilmu dan informasi ibu hamil dan bersalin dan juga bisa diselingi kegiatan pengabdian masyarakat bersama antara bidan dan dukun bayi anggota arisan, serta juga akan diadakan kegiatan simpan pinjam untuk anggota arisan atau hanya akan diadakan kegiatan makan bersama antar anggota.
Semua kegiatan dilakukan dengan tetap menghormati kedudukan dukun bayi, kegiatan bersifat saling berbagi ilmu antara bidan sebagai petugas kesehatan yang telah menepuh pendidikan formal dan menjalankan praktik kebidanan berdasarkan evidence based kebidanan dan dukun bayi sebagai orang yang berpengaruh dalam pemberian asuhan kepada ibu dan anak di masyarakat dengan pengalaman turun-temurun yang ia dapatkan, diharapkan kemitraan yang baik akan terjalin diantara keduanya.

G.           WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
                  1.          Waktu Pelaksanakan
Waktu pelaksanaan arisan dilakukan rutin setiap bulan.



                  2.          Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan arisan dapat dilakukan di puskesmas, atau di rumah anggota sesuai materi dan sarana prasarana yang dbutuhkan untuk menunjang materi yang disampaiakan.

H.           PEMATERI DAN FASILISATOR DALAM ARISAN
Pemateri dalam arisan berasal dari anggota yang merupakan tenaga kesehatan, baik itu dokter, bidan, perawat, tenaga ahli gizi, dan farmasi, atau bisa juga dari tokoh agama dan narasumber lain yang diundang dalam acara arisan itu untuk menyampaikan materi yang berkaitan di bidangnya.
Fasilitator merupakan tenaga kesehatan yang membantu dukun-dukun bayi memahami materi yang disampaikan, fasilitator ini bergantian antar anggota puskesmas, karena tidak memungkinkan jika seluruh tenaga kesehatan keluar untuk mengikuti materi yang disampaikan.

I.              METODE PENYAMPAIAN MATERI DALAM ARISAN
Metode penyampaian materi dalam arisan kepada dukun bayi adalah presentasi menggunakan power point, ceramah, diskusi, pemutaran video, tutorial atau peragaan langsung menggunakan pasien atau phantom oleh pemateri.

J.             SETTING SAAT PENYAMPAIAN MATERI
Pada saat penyampaian materi dukun bayi dan tenaga kesehatan duduk melingkar saling berhadapan.

 










K.           ALAT BANTU
Adapun alat bantu yang digunakan dalam proses pemberian materi disesuaikan materi yang disampaikan, diantaranya:
                  1.          Phantom bayi
                  2.          Banner/pamflet tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, BBL.
                  3.          Miniatur sayuran dan buah
                  4.          Video pendukung
                  5.          Laptop
                  6.          LCD dan proyektor

L.            KLASIFIKASI MATERI
Berikut adalah klasifikasi materi yang di berikan untuk melakukan pembinaan dukun:
                    1.            Promosi Bidan Siaga
Salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sasuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat di libatkan dalam perawatan bayi baru lahir. Apabila cara tersebut dapat di lakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan memberitaukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut semakin meningkat.

                    2.            Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Rujukan
Dukun perlu mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang perawatan pada ibu hamil, sehingga materi tentang pengenalan terhadap ibu hamil yang beresiko tinggi, tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, dan rujukan merupakan materi yang harus di berikan, agar dukun bayi dapat melakukan deteksi dini kegawatan atau tanda bahaya pada ibu hamil, bersalin, nifas dan segera mendapatkan rujukan cepat dan tepat.



Berikut ini adalah materi-materi dalam pelaksanaan pembinaan dukun:
                                       a.            Pengenalan golongan resiko tinggi
Ibu yang termasuk dalam golongan resiko tinggi adalah ibu dengan umur terlalu muda (kurang 16 tahun) atau terlalu tua (lebih 35 tahun), tinggi badan kurang dari 145 cm, jarak antara kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) atau terlalu lama (lebih dari 10 tahun), ibu hamil dengan anemia, dan ibu dengan riwayat persalinan buruk (perdarahan, operasi, dan lain-lain).

                                      b.            Pengenalan tanda-tanda bahaya pada kehamilan
Pengenalan tanda-tanda bahaya pada kehamilan meliputi perdarahan pada kehamilan sebelum waktunya; ibu demam tinggi; bengkak pada kaki, tangan dan wajah; sakit kepala atau kejang; keluar air ketuban sebelum waktunya; frekuensi gerakan bayi kurang atau bayi tidak bergerak; serta ibu muntah terus menerus; dan tidak mau makan.

                                       c.            Pengenalan tanda-tanda bahaya pada persalinan
Tanda-tanda bahaya pada persalinan, yaitu bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak ibu merasakan mulas, perdarahan melalui jalan lahir, tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir, ibu tidak kuat mengejan atau mengalami kejang, air ketuban keruh dan berbau, plasenta tidak keluar setelah bayi lahir, dan ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat.

                                      d.            Pengenalan tanda-tanda kelainan pada nifas
Tanda-tanda kelainan pada nifas meliputi: perdarahan melalui jalan lahir; keluarnya cairan berbau dari jalan lahir; demam lebih dari dua hari; bengkak pada muka, kaki atau tangan; sakit kepala atau kejang-kejang; payudara bengkak disertai rasa sakit; dan ibu mengalami gangguan jiwa.

                    3.            Pengenalan Dini Tetanus Neonatorum, BBLR, dan Rujukan
                                       a.            Tetanus neonatorum
Dari 148 ribu kelahiran bayi di indonesia, kurang lebih 9,8% mengalami tetanus neonatorum yang berkaitan pada kematian. Pada tahun 1980 tetanus menjadi penyebab kematian pertama pada bayi usia di bawah satu bulan. Meskipun angka kejadian tetanus neonatorum semakin mengalami penurunan, akan tetapi ancaman masih tetap ada, sehingga perlu diatasi secara serius. Tetanus neonatorum adalah salah satu penyakit yang paling berisiko terhadap kematian bayi baru lahir yang di sebabkan oleh basil clostridium tetani.
Tetanus noenatorum menyerang bayi usia di bawah satu bulan, penyakit ini sangat menular dan menyebabkan resiko kematian. Tetanus neonatorum di masyarakat, kebanyakan terjadi karena penggunaan alat pemotong tali pusat yang tidak steril. Gejala tetanus di awali dengan kejang otot rahang (trismus atau kejang mulut) bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher, bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut lengan atas dan paha. Dengan diberikan pembekalan materi tetanos noenatorum di harapkan dukun dapat memperhatikan kebersihan alat persalinan, memotivasi ibu untuk melakukan imunisasi, dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan, sehingga dapat menekan angka kejadian tetanus noenatorum.

Tanda-tanda Tetanus Neonatorum :
1.        Bayi baru lahir yang semula bisa menetek dengan baik tiba-tiba tidak bisa menetek.
2.        Mulut mencucu seperti mulut ikan.
3.        Kejang terutama bila terkena rangsang cahaya, suara dan sentuhan.
4.        Kadang-kadang disertai sesak nafas dan wajah bayi membiru.

Penyebab terjadinya Tetanus Neonatorum :
1.        Pemotongan tali pusat pada waktu pemotongan tidak bersih.
2.        Perawatan tali pusat setelah lahir sampai saat puput tidak bersih atau diberi bermacam-macam ramuan.

                    4.            Penyuluhan Gizi dan KB
                                       a.            Gizi pada ibu hamil.
·      Ibu hamil makan makanan yang bergizi yang mengandung empat sehat lima  sempurna.
·      Makan satu piring lebih banyak dari sebelum hamil.
·      Untuk menambah tenaga, makan makanan selingan pagi dan sore hari seperti kolak, kacang hijau, kue-kue dan lain-lain.
·      Tidak ada pantangan makan selama hamil.
·      Minum 1 tablet tambah darah selama hamil dan nifas.

                                      b.            Gizi pada bayi
1)   Usia 0-6 bulan
·      Beri ASI setiap kali bayi menginginkan sedikitnya 8 kali sehari, pagi, siang, sore maupun malam.
·      Jangan beikan makanan atau minuman lain selain ASI (ASI eksklusif).
·      Susui/teteki bayi dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian

2)   Usia 6-9 bulan
Selain ASI dikenalkan makanan pendamping ASI dalam bentukm lumat dimulai dari bubur susu sampai nasi tim lumat

3)   Usia 9-12 bulan.
·      Selain ASI diberi MP-ASI yang lebih padat dan kasar seperti bubur nasi, nasi tim dan nasi lembik.
·      Pada makanan pendamping ASI ditambahkan telur ayam, ikan, tahu, tempe, daging sapi, wortel, bayam atau minyak.
·      Beri makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti bubur kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan lain- lain.
·      Beri buah-buahan atau sari buah seperti air jeruk manis, air tomat saring

                                       c.            Penyuluhan KB
Pentingnya ikut program KB setelah persalinan agar Ibu punya waktu untuk menyusui dan merawat bayi, menjaga kesehatan ibu serta mengurus keluarga, Mengatur jarak kehamilan tidak terlalu dekat yaitu lebih dari 2 tahun.
Macam alat kontrasepsi
1)             Untuk suami :  Kondom dan Vasektomi
2)             Untuk istri     :  pil, suntik, spiral, implant, spiral, tubektomi.

                    5.            Pencatatan Kehamilan, Persalinan, Kelahiran, dan kematian
Dukun bayi melakukan pencatatan dan pelaporan dari kehamilan, calon ibu bersalin, pemeriksaan kehamilan yang dilakukan, perawatan ibu nifas dan BBL yang dijalani kepada Puskesmas atau Desa dan Kelurahan.

M.          LANGKAH PEMBINAAN DALAM ARISAN DUKUN BAYI
     Pembinaan dukun bayi dilakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan dari masing-masing daerah atau dukun berasal ,karena tidak mudah mengajak seseorang dukun bayi untuk mengikuti pembinaan dalam arisan dukun bayi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut:
a.              Fase I : Pendataan dukun
1)        Semua dukun yang berpraktek didaftar dan diberikan tanda terdaftar.
2)        Dilakukan assesment mengenai pengetahuan/ ketrampilan dan sikap mereka dalam penanganan kehamilan dan persalinan.

b.             Fase II : Pelatihan dan Pendampingan    
1)        Dilakukan pelatihan dan pendampingan sesuai dengan hasil assessment.
2)        Diberikan sertifikat.
3)        Diberikan penataan kembali tugas dan wewenang bidan dalam pelayanan kesehatan ibu dan bayi.

c.              Fase III : Pelatihan oleh tenaga terlatih
1)        Persalinan hanya boleh dilakukan oleh bidan tenaga trelatih, dukun hanya mendampingi.
2)        Pendidikan bidan desa diprioritaskan pada anak dan keluarga dukun.





N.           PROSES PENYAMPAIAN MATERI DALAM ARISAN DUKUN BAYI
a.         Persiapan
Adapun persiapan dalam proses arisan dukun bayi ini adalah :
·      Menyiapkan tempat penyampaian materi dalam arisan.
·      Mengkondisikan dukun bayi yang akan mengikuti penyampaian materi.
·      Menyiapkan pemateri yang terlatih dan mampu.
·      Menyiapkan alat bantu, media, dan metode yang akan digunakan.
·      Menyiapkan materi yang akan dibawakan.
·      Menyiapkan snack untuk konsumsi.

b.      Pelaksanaan
Rencana Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan Dukun Bayi
No
Kegiatan Pelatihan Dukun Bayi
Kegiatan Bidan
Kegiatan Dukun bayi
Waktu
Media
1.
Kegiatan awal
1.      Absensi
1.      absendi
10menit
Form absen

2.      Pembagian Snack
2.      Pembagian Snack
2 menit


3.      Mempersilahkan dan memberi salam
3.      Menjawab salam
1 menit

4.      Memperkenalkan diri
4.      Menyimak dan mendengarkan
3 menit

5.      Menjelaskan tujuan dan pokok bahasan
5.      Mendengar dan menyimak


6.      Menggali permasalahan
6.      Menjawab pertanyaan dan memberi informasi
3 menit

7.      Menyimpulkan permasalahan sementara
7.      Mendengar dan menyimak
8 menit

8.      Menampilkan video
8.      Menonton video dengan baik
9 menit
LCD
2.
Kegiatan inti
1.      Menjelaskan materi
1.      Menyimak, bertanya dan memperhatikan
20 menit
 Diskusi bersama (sharing dengan Tanya jawab)

2.      Mempraktikan secara langsung sesuai pembahasan
2.      Ikut terlibat dalam praktik
25 menit
Phantom dan alat bantu

3.      Melakukan evaluasi dengan pembagian masing-masing kelompok dukun bayi untuk mempraktikan secara langsung apa-apa saja yang telah dipahami.
3.      Ikut antusias
15 menit

4.      Memberi kesempatan dukun bayi bertanya
4.      Bertanya
5 menit

5.      Menyimpulkan
5.      Menyimak dan memperhatikan
3 menit
3.
Penutup
1.      Memberikan ucapan terima kasih dan salam penutup
1.      Mendengar dan menjawab
2 menit

4.
Acara arisan
1.      Ikut andil dalam mengocok arisan
1.      Ikut andil dalam mengocok arisan
15 menit

5
Perencanaan kegiatan berikutnya
1.      Membahas kegiatan arisan selanjutnya dan sharing informasi
1.      Ikut Membahas kegiatan arisan selanjutnya dan ikut sharing informasi
15 menit




c.       Evaluasi
Yang akan dievaluasi pada pelatihan dukun bayi ini adalah keterampilan dukun bayi dalam tanda bahaya pada kehamilan dan tanda bahaya persalinan serta perawatan tali pusat yang benar bukan menambahi/membubuhi sesuatu pada tali pusat (bubuk atau daun-daunan yang ditaburkan ke tali pusat) sehingga dapat mengakibatkan infeksi. Cara evaluasinya adalah penilaian langsung saat evaluasi pada saat dukun bayi memperagakan di sesi evaluasi dan langsung  memberikan arahan.
                                   
O.           PENUTUP
Kerjasama  yang  saling  menguntungkan  antara  bidan  dengan  dukun  bayi sangat  diperlukan  untuk  memindahkan  persalinan  dari dukun  bayi  ke  Bidan. Dengan demikian, kematian ibu dan bayi diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi  risiko  yang  mungkin  terjadi  bila  persalinan  tidak  ditolong  oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERENCANAN DALAM MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN

Konsep Sehat Sakit

Cara Menggabungkan Halaman Angka Romawi (ex: I, II, II) dan Angka Biasa (ex: 1, 2, 3)