PROPOSAL KEGIATAN PEMBINAAN DUKUN BAYI
PROPOSAL KEGIATAN PEMBINAAN DUKUN BAYI
MELALUI ARISAN DUKUN BAYI
Proposal
Ini Dibuat Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individu
Mata
Kuliah Pengorganisasian dan Pengembangan
Masyarakat(PPM)

OLEH :
RITA
RUKMAWATI
PO.71.24.2.17.031
DOSEN PENGAMPU : ASRI NOVIYANTI,
SST., M.Keb.
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
JURUSAN KEBIDANAN
TAHUN 2019
A.
LATAR
BELAKANG
Keberhasilan pembangunan kesehatan di
Indonesia masih belum memuaskan, terbukti dari
masih tingginya Angka
Kematian Ibu (AKI)
dan Angka Kematian Bayi
(AKB). Kematian dan
kesakitan ibu hamil,
bersalin, nifas dan bayi
baru lahir masih merupakan
masalah besar negara
berkembang termasuk Indonesia. Di
Negara-negara miskin, sekitar
25 – 50%
kematian wanita usia subur disebabkan oleh masalah yang
berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan
nifas. WHO memperkirakan
diseluruh dunia setiap tahunnya lebih
dari 585.000 ibu meninggal pada saat hamil atau bersalin.
Menanggapi masalah
kematian ibu yang
demikian besar, tahun
1987 untuk pertama kalinya di
tingkat Internasional diadakan konferensi tentang kematian ibu di Nairobi,
Kenya yang menyepakati peningkatan upaya
bagi kesehatan ibu atau Safe Motherhood.
Kemudian pada tahun 1990 World Summit for
Children di New York,
Amerika Serikat yang
dihadiri 127 negara
termasuk Indonesia,
membuahkan 7 tujuan
utama, diantaranya menurunkan
AKI menjadi 50 %
pada tahun 2000.
Program Safe Motherhood mulai tahun
1990, salah satu terobosannya adalah menempatkan tenaga bidan di setiap desa
dan melatih dukun bayi serta dilengkapi dengan dukun kit, sehingga diharapkan dukun
yang sudah dilatih mampu dan mau menerapkan persalinan 3 bersih (bersih tempat,
alat dan cara).
Upaya Making Pregnancy Safer (MPS) dengan 3 pesan kunci yaitu (1) setiap
persalinan ditolong oleh
tenaga kesehatan terlatih
(2) setiap komplikasi obstetric dan neonatal ditangani
mendapat pelayanan adekuat (3) setiap wanita usia subur
mempunyai akses terhadap
pencegahan kehamilan yang
tidak diinginkan dan penanganan komplikasi.
Dari
hasil survey WHO
dan Departemen Kesehatan
ternyata penurunan AKI tidak
sesuai target yang
diharapkan dan dukun
yang sudah dilatih
ternyata kembali pada prilaku semula.
Dari hasil SDKI 1991-2017 dan SUPAS 2015
derajat kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih belum memuaskan,
ditandai oleh tingginya
Angka Kematian Ibu
(AKI), yaitu 305/100.000 KH, sedangkan
angka kematian bayi 24/1000 KH. kematian Ibu menurut Pusat Data dan Informasi
Ibu (Infodatin-Ibu) 2014 adalah perdarahan 30,3%, hipertensi 27,1%, infeksi
7,3%, dan lain-lain 40,8%. Kondisi ini diperburuk dengan masih tingginya
kehamilan dengan 4 terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu sering dan
terlalu banyak) sebanyak 62,7%. Sedangkan penyebab kematian bayi baru lahir
(neonatal) di Indonesia adalah asfiksia 27%,
komplikasi pada bayi
baru lahir rendah
29%, tetanus neonatorum
10%, masalah pemberian makanan 10%, infeksi 5%, gangguan hematologik 6%,
dan lain-lain 13%.
Salah satu faktor yang sangat
mempengaruhi terjadinya kematian ibu maupun bayi adalah
faktor pelayanan yang
sangat dipengaruhi oleh
kemampuan dan keterampilan tenaga
kesehatan sebagai penolong
pertama pada persalinan tersebut, di mana
sesuai dengan pesan
pertama kunci MPS yaitu
setiap persalinan hendaknya ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Di
samping itu, masih tingginya persalinan
di rumah dan
masalah yang terkait
budaya dan perilaku dan
tanda-tanda sakit pada
neonatal yang sulit dikenali,
juga merupakan penyebab kematian bayi baru lahir.
Menurut
hasil penelitian dari
97 negara bahwa
ada korelasi yang
signifikan antara
pertolongan persalinan dengan
kematian ibu. Semakin
tinggi cakupan persalinan oleh
tenaga kesehatan di
suatu wilayah akan
diikuti penurunan kematian ibu di
wilayah tersebut. Namun sampai
saat ini di
wilayah Indonesia masih
banyak pertolongan
persalinan dilakukan oleh
dukun bayi yang
masih menggunakan cara-cara tradisional sehingga
banyak merugikan dan
membahayakan keselamatan ibu dan bayi baru lahir.
Di
beberapa daerah, keberadaan
dukun bayi sebagai
orang yang dianggap terampil
dan dipercaya oleh masyarakat untuk menolong persalinan, perawatan ibu dan anak sesuai kebutuhan masyarakat.(Dep Kes RI. 1994 : 2). Berbeda dengan
keberadaan bidan yang rata-rata
masih muda dan
belum seluruhnya mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Sehingga perlu dicari
suatu kegiatan yang
dapat membuat kerjasama
yang saling menguntungkan antara
bidan dengan dukun
bayi, dengan harapan pertolongan persalinan
akan berpindah dari
dukun bayi ke
bidan. Kedudukan dukun bayi di
masyarakat yang dipandang sebagai panutan pun dapat dimanfaatkan sebagai media
untuk menyebarluaskan infomasi kesehatan yang sesuai dengan prinsip-prinsip
kebidanan. Dengan demikian,
kematian ibu dan
bayi diharapkan dapat
diturunkan dengan mengurangi risiko
yang mungkin terjadi
bila persalinan tidak
ditolong oleh tenaga kesehatan
yang kompeten dengan menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun bayi.
Arisan sendiri dipilih sebagai kegiatan
sudah umum dilakukan dimasyaakat, merupakan acara yang menarik dan tidak
terlalu formal, bersifat rutin dalam periode tertentu, dapat divariasikan
dengan kegiatan-kegiatan seperti pemberian materi dan keterampilan, serta
kegiatan simpan pinjam antar anggota dengan demikian diharapkan terjalin
hubungan dan kerjasama yang baik diantara bidan desa dan dukun bayi setempat
secara terus menerus.
Dalam pola kemitraan bidan dengan dukun
bayi berbagai elemen masyarakat yang ada
dilibatkan sebagai unsur
yang dapat memberikan
dukungan dalam kesuksesan
pelaksanaan kegiatan ini.
B.
TUJUAN
1.
Tujuan
Umum :
Meningkatnya akses
Ibu dan bayi
terhadap pelayanan kebidanan berkualitas.
2.
Tujuan
Khusus :
a.
Meningkatkan rujukan
persalinan, pelayanan antenatal,
nifas dan bayi oleh dukun bayi ke
tenaga kesehatan yang kompeten.
b.
Meningkatkan alih
peran dukun bayi dari
penolong persalinan menjadi mitra Bidan dalam merawat Ibu Nifas
dan Bayinya.
c.
Meningkatkan persalinan
oleh tenaga kesehatan
yang memiliki kompetensi
kebidanan.
d.
Menjalin hubungan dan kerjasama yang
baik antara bidan dan dukun bayi secara berkelanjutan.
e.
Meningkatkan pengetahuan dukun bayi
mengenai kesehatan ibu dan bayi.
C.
SASARAN
1. Dukun
bayi yang berada di wilayah setempat.
2. Pengelola dan
Penanggung Jawab Program
KIA/KB, Promkes dan Perencanaan di Propinsi, Kab/Kota dan
Puskesmas.
3. Lintas Sektor
terkait di setiap
jenjang administrasi (disesuaikan
kondisi setempat).
4. Bidan
koordinator dan bidan puskesmas
D.
LEMBAGA
YANG BERPARTISIPASI
Lembaga yang
berpartisipasi untuk menyukseskan kegiatan ini antara lain:
1.
Pemerintah setempat, antara lain
pemimpin kecamatan, kepala desa, ketua RT dan RW.
2.
Tokoh masyarakat, seperti tokoh adat dan
tokoh agama.
3.
Petugas kesehatan wilayah setempat,
antara lain dokter dan bidan puskesmas.
4.
Dukun bayi yang ada di wilayah
kecamatan/kelurahan setempat.
E.
PESERTA
ARISAN DUKUN BAYI
Peserta arisan dukun
bayi adalah seluruh dukun bayi yang berada di wilayah kecamatan/kelurahan
setempat bersama seluruh petugas kesehatan penanggung jawab wilayah setempat
seperti bidan desa, kader, dokter dan bidan puskesmas.
F.
BENTUK
KEGIATAN
Bentuk
kegiatan dari arisan dukun bayi ini adalah sebagaimana kegiatan arisan pada
umumnya, arisan bisa disepakati berupa arisan barang atau arisan uang,
didalamnya akan dimasukkan kegiatan pemberian materi tentang
kebijakan-kebijakan pemerintah berkaitan tentang ibu dan anak, program-program
yang sedang dijalani, peran bidan dan dukun bayi di masyarakat, serta
materi-materi kesehatan ibu dan anak yang akan meningkatkan keterampilan dukun
bayi, pemutaran video cara perawatan fisik ibu dan bayi setelah persalinan,
tutorial perawatan bayi baru lahir dari petugas kesehatan, tanya jawab, sharing
ilmu dan informasi ibu hamil dan bersalin dan juga bisa diselingi kegiatan
pengabdian masyarakat bersama antara bidan dan dukun bayi anggota arisan, serta
juga akan diadakan kegiatan simpan pinjam untuk anggota arisan atau hanya akan
diadakan kegiatan makan bersama antar anggota.
Semua
kegiatan dilakukan dengan tetap menghormati kedudukan dukun bayi, kegiatan
bersifat saling berbagi ilmu antara bidan sebagai petugas kesehatan yang telah
menepuh pendidikan formal dan menjalankan praktik kebidanan berdasarkan evidence based kebidanan dan dukun bayi sebagai
orang yang berpengaruh dalam pemberian asuhan kepada ibu dan anak di masyarakat
dengan pengalaman turun-temurun yang ia dapatkan, diharapkan kemitraan yang
baik akan terjalin diantara keduanya.
G.
WAKTU
DAN TEMPAT PELAKSANAAN
1.
Waktu
Pelaksanakan
Waktu pelaksanaan
arisan dilakukan rutin setiap bulan.
2.
Tempat
Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan
arisan dapat dilakukan di puskesmas, atau di rumah anggota sesuai materi dan
sarana prasarana yang dbutuhkan untuk menunjang materi yang disampaiakan.
H.
PEMATERI
DAN FASILISATOR DALAM ARISAN
Pemateri
dalam arisan berasal dari anggota yang merupakan tenaga kesehatan, baik itu
dokter, bidan, perawat, tenaga ahli gizi, dan farmasi, atau bisa juga dari
tokoh agama dan narasumber lain yang diundang dalam acara arisan itu untuk
menyampaikan materi yang berkaitan di bidangnya.
Fasilitator
merupakan tenaga kesehatan yang membantu dukun-dukun bayi memahami materi yang
disampaikan, fasilitator ini bergantian antar anggota puskesmas, karena tidak
memungkinkan jika seluruh tenaga kesehatan keluar untuk mengikuti materi yang
disampaikan.
I.
METODE
PENYAMPAIAN MATERI DALAM ARISAN
Metode
penyampaian materi dalam arisan kepada dukun bayi adalah presentasi menggunakan
power point, ceramah, diskusi, pemutaran video, tutorial atau peragaan langsung
menggunakan pasien atau phantom oleh pemateri.
J.
SETTING
SAAT PENYAMPAIAN MATERI
Pada
saat penyampaian materi dukun bayi dan tenaga kesehatan duduk melingkar saling berhadapan.
![]() |
|||
![]() |
|||
K.
ALAT
BANTU
Adapun
alat bantu yang digunakan dalam proses pemberian materi disesuaikan materi yang
disampaikan, diantaranya:
1.
Phantom bayi
2.
Banner/pamflet tentang tanda bahaya
kehamilan, persalinan, nifas, BBL.
3.
Miniatur sayuran dan buah
4.
Video pendukung
5.
Laptop
6.
LCD dan proyektor
L.
KLASIFIKASI
MATERI
Berikut
adalah klasifikasi materi yang di berikan untuk melakukan pembinaan dukun:
Salah satu
cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di
desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sasuai apabila dukun menyerahkan ibu
hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat di libatkan dalam perawatan bayi baru lahir. Apabila
cara tersebut dapat di lakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan
memberitaukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut
semakin meningkat.
Dukun perlu
mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang perawatan pada ibu hamil, sehingga
materi tentang pengenalan terhadap ibu hamil yang beresiko tinggi, tanda bahaya
kehamilan, persalinan, nifas, dan rujukan merupakan materi yang harus di berikan, agar dukun bayi dapat
melakukan deteksi dini kegawatan atau tanda bahaya pada ibu hamil, bersalin, nifas dan segera mendapatkan rujukan cepat dan tepat.
Berikut ini adalah materi-materi dalam pelaksanaan pembinaan dukun:
a.
Pengenalan golongan resiko tinggi
Ibu yang
termasuk dalam golongan resiko tinggi adalah ibu dengan umur terlalu muda
(kurang 16 tahun) atau terlalu tua (lebih 35 tahun), tinggi badan kurang dari
145 cm, jarak antara kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) atau terlalu lama (lebih dari 10
tahun), ibu hamil dengan anemia, dan ibu dengan riwayat persalinan buruk (perdarahan, operasi, dan lain-lain).
Pengenalan
tanda-tanda bahaya pada kehamilan meliputi perdarahan pada kehamilan sebelum waktunya; ibu demam tinggi; bengkak pada kaki, tangan dan wajah;
sakit kepala atau kejang; keluar air ketuban sebelum waktunya; frekuensi
gerakan bayi kurang atau bayi tidak bergerak; serta ibu muntah terus menerus;
dan tidak mau makan.
c.
Pengenalan tanda-tanda bahaya pada persalinan
Tanda-tanda
bahaya pada persalinan, yaitu bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak ibu merasakan mulas, perdarahan
melalui jalan lahir, tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir, ibu
tidak kuat mengejan atau mengalami kejang, air ketuban keruh dan berbau,
plasenta tidak keluar setelah bayi lahir, dan ibu gelisah atau mengalami
kesakitan yang hebat.
Tanda-tanda
kelainan pada nifas meliputi: perdarahan melalui jalan lahir; keluarnya cairan berbau dari
jalan lahir; demam lebih dari dua hari; bengkak pada muka, kaki atau tangan;
sakit kepala atau kejang-kejang; payudara bengkak disertai rasa sakit; dan ibu
mengalami gangguan jiwa.
3.
Pengenalan Dini Tetanus Neonatorum, BBLR, dan Rujukan
a.
Tetanus neonatorum
Dari 148
ribu kelahiran bayi di indonesia, kurang lebih 9,8% mengalami tetanus
neonatorum yang berkaitan pada kematian. Pada tahun 1980 tetanus menjadi
penyebab kematian pertama pada bayi usia di bawah satu bulan. Meskipun angka
kejadian tetanus neonatorum semakin mengalami penurunan, akan tetapi ancaman
masih tetap ada, sehingga perlu diatasi secara serius. Tetanus neonatorum
adalah salah satu penyakit yang paling berisiko terhadap kematian bayi baru
lahir yang di sebabkan oleh basil clostridium tetani.
Tetanus
noenatorum menyerang bayi usia di bawah satu bulan, penyakit ini sangat menular
dan menyebabkan resiko kematian. Tetanus neonatorum di masyarakat, kebanyakan
terjadi karena penggunaan alat pemotong tali pusat yang tidak steril. Gejala
tetanus di awali dengan kejang otot rahang (trismus atau kejang mulut)
bersamaan dengan timbulnya pembengkakan, rasa sakit dan kaku di otot leher,
bahu atau punggung. Kejang-kejang secara cepat merambat ke otot perut lengan
atas dan paha. Dengan diberikan pembekalan materi tetanos noenatorum di
harapkan dukun dapat memperhatikan kebersihan alat persalinan, memotivasi ibu untuk melakukan imunisasi, dan melakukan persalinan pada tenaga kesehatan, sehingga dapat menekan angka kejadian tetanus
noenatorum.
Tanda-tanda
Tetanus Neonatorum :
1.
Bayi baru
lahir yang semula bisa menetek dengan baik tiba-tiba tidak bisa menetek.
2.
Mulut
mencucu seperti mulut ikan.
3.
Kejang
terutama bila terkena rangsang cahaya, suara dan sentuhan.
4.
Kadang-kadang
disertai sesak nafas dan wajah bayi membiru.
Penyebab
terjadinya Tetanus Neonatorum :
1.
Pemotongan
tali pusat pada waktu pemotongan tidak bersih.
2.
Perawatan
tali pusat setelah lahir sampai saat puput tidak bersih atau diberi
bermacam-macam ramuan.
4.
Penyuluhan
Gizi dan KB
a.
Gizi pada ibu hamil.
·
Ibu hamil
makan makanan yang bergizi yang mengandung empat sehat lima sempurna.
·
Makan satu
piring lebih banyak dari sebelum hamil.
·
Untuk
menambah tenaga, makan makanan selingan pagi dan sore hari seperti kolak,
kacang hijau, kue-kue dan lain-lain.
·
Tidak ada
pantangan makan selama hamil.
b.
Gizi pada bayi
1)
Usia 0-6
bulan
·
Beri ASI
setiap kali bayi menginginkan sedikitnya 8 kali sehari, pagi, siang, sore
maupun malam.
·
Susui/teteki
bayi dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian
2)
Usia 6-9
bulan
Selain ASI dikenalkan makanan
pendamping ASI dalam bentukm lumat dimulai dari bubur susu sampai nasi tim
lumat
3)
Usia 9-12
bulan.
· Selain ASI diberi MP-ASI yang lebih padat dan kasar seperti bubur nasi,
nasi tim dan nasi lembik.
· Pada makanan pendamping ASI ditambahkan telur ayam, ikan, tahu, tempe,
daging sapi, wortel, bayam atau minyak.
· Beri makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti bubur
kacang hijau, pisang, biskuit, nagasari dan lain- lain.
· Beri buah-buahan atau sari buah seperti air jeruk manis, air tomat saring
Pentingnya ikut program KB setelah persalinan agar Ibu punya waktu untuk menyusui dan merawat bayi, menjaga kesehatan
ibu serta mengurus keluarga, Mengatur jarak kehamilan tidak terlalu dekat yaitu lebih dari 2 tahun.
Macam alat kontrasepsi
1)
Untuk suami
: Kondom dan Vasektomi
2)
Untuk istri
: pil, suntik, spiral, implant, spiral, tubektomi.
5.
Pencatatan Kehamilan,
Persalinan, Kelahiran, dan kematian
Dukun bayi melakukan
pencatatan dan pelaporan dari kehamilan, calon ibu bersalin, pemeriksaan kehamilan
yang dilakukan, perawatan ibu nifas dan BBL yang dijalani kepada Puskesmas atau Desa dan Kelurahan.
M.
LANGKAH
PEMBINAAN DALAM ARISAN DUKUN BAYI
Pembinaan dukun bayi dilakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan
peraturan dari masing-masing daerah atau dukun berasal ,karena tidak mudah
mengajak seseorang dukun bayi untuk mengikuti pembinaan dalam arisan dukun bayi. Beberapa langkah yang dapat
dilakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut:
a.
Fase I : Pendataan
dukun
1)
Semua dukun yang berpraktek didaftar dan diberikan
tanda terdaftar.
2)
Dilakukan assesment mengenai pengetahuan/ ketrampilan
dan sikap mereka dalam penanganan kehamilan dan persalinan.
b.
Fase II :
Pelatihan dan Pendampingan
1)
Dilakukan pelatihan
dan pendampingan sesuai dengan hasil assessment.
2)
Diberikan sertifikat.
c.
Fase III : Pelatihan oleh tenaga terlatih
N.
PROSES
PENYAMPAIAN MATERI DALAM ARISAN DUKUN BAYI
a.
Persiapan
Adapun
persiapan dalam proses arisan dukun bayi ini adalah :
· Menyiapkan
tempat penyampaian materi dalam arisan.
· Mengkondisikan
dukun bayi yang akan mengikuti penyampaian materi.
· Menyiapkan
pemateri yang terlatih dan mampu.
· Menyiapkan
alat bantu, media, dan metode yang akan digunakan.
· Menyiapkan
materi yang akan dibawakan.
· Menyiapkan
snack untuk konsumsi.
b. Pelaksanaan
Rencana Pelaksanaan Kegiatan Pelatihan Dukun
Bayi
|
No
|
Kegiatan
Pelatihan Dukun Bayi
|
Kegiatan
Bidan
|
Kegiatan
Dukun bayi
|
Waktu
|
Media
|
|
1.
|
Kegiatan awal
|
1.
Absensi
|
1.
absendi
|
10menit
|
Form absen
|
|
|
2.
Pembagian Snack
|
2.
Pembagian Snack
|
2 menit
|
|
|
|
|
3.
Mempersilahkan dan memberi salam
|
3.
Menjawab salam
|
1 menit
|
||
|
|
4.
Memperkenalkan diri
|
4.
Menyimak dan mendengarkan
|
3 menit
|
||
|
|
5.
Menjelaskan tujuan dan pokok bahasan
|
5.
Mendengar dan menyimak
|
|
||
|
|
6.
Menggali permasalahan
|
6.
Menjawab pertanyaan dan memberi informasi
|
3 menit
|
||
|
|
7.
Menyimpulkan permasalahan sementara
|
7.
Mendengar dan menyimak
|
8 menit
|
||
|
|
8.
Menampilkan video
|
8.
Menonton video dengan baik
|
9 menit
|
LCD
|
|
|
2.
|
Kegiatan inti
|
1. Menjelaskan
materi
|
1. Menyimak,
bertanya dan memperhatikan
|
20 menit
|
Diskusi bersama (sharing dengan Tanya jawab)
|
|
|
2. Mempraktikan
secara langsung sesuai pembahasan
|
2. Ikut
terlibat dalam praktik
|
25 menit
|
Phantom dan alat bantu
|
|
|
|
3. Melakukan
evaluasi dengan pembagian masing-masing kelompok dukun bayi untuk
mempraktikan secara langsung apa-apa saja yang telah dipahami.
|
3. Ikut
antusias
|
15 menit
|
||
|
|
4. Memberi
kesempatan dukun bayi bertanya
|
4. Bertanya
|
5 menit
|
||
|
|
5. Menyimpulkan
|
5. Menyimak
dan memperhatikan
|
3 menit
|
||
|
3.
|
Penutup
|
1. Memberikan
ucapan terima kasih dan salam penutup
|
1. Mendengar
dan menjawab
|
2 menit
|
|
|
4.
|
Acara arisan
|
1. Ikut
andil dalam mengocok arisan
|
1. Ikut
andil dalam mengocok arisan
|
15 menit
|
|
|
5
|
Perencanaan kegiatan
berikutnya
|
1. Membahas
kegiatan arisan selanjutnya dan sharing informasi
|
1. Ikut
Membahas kegiatan arisan selanjutnya dan ikut sharing informasi
|
15 menit
|
|
c. Evaluasi
Yang akan dievaluasi pada pelatihan dukun bayi ini adalah keterampilan dukun bayi dalam tanda bahaya pada
kehamilan dan tanda bahaya persalinan serta perawatan tali pusat yang benar
bukan menambahi/membubuhi sesuatu pada tali pusat (bubuk
atau daun-daunan yang ditaburkan ke tali pusat) sehingga dapat mengakibatkan infeksi. Cara evaluasinya adalah penilaian langsung saat evaluasi
pada saat dukun bayi memperagakan di sesi evaluasi dan langsung memberikan
arahan.
O.
PENUTUP
Kerjasama yang
saling menguntungkan antara
bidan dengan dukun
bayi sangat diperlukan untuk
memindahkan persalinan dari dukun
bayi ke Bidan. Dengan demikian, kematian ibu dan bayi
diharapkan dapat diturunkan dengan mengurangi
risiko yang mungkin
terjadi bila persalinan
tidak ditolong oleh tenaga kesehatan yang kompeten dengan
menggunakan pola kemitraan bidan dengan dukun.



Komentar
Posting Komentar