Teori-teori Tentang Pengetahuan



PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN
lambang poltekkes.png


Mata Kuliah                 : Humaniora
Bobot                            : 2 SKS
Program Studi              : D-IV Kebidanan
Semester                       : 1 (Ganjil)
Dosen Pembimbing     : Rika Feranita, S.Sos,. M.Pd.

Disusun Oleh: Kelompok 5
1.    Rita Rukmawati
2.    Dwi Puspita Sindi
3.    Intan Wilujeng
4.    Emi Latifah Sukasna


POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2017/2018

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamiin… Tiada kata yang lebih pantas yang dapat kami ungkapkan dan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia dan Ridho-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang telah mengajarkan kita tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafa’at beliau di hari akhir kelak. Amin.
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Humaniora semester pertama Program Studi DIV Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palembang Tahun Ajaran 2017-2018.
Penulisan makalah dapat terselesaikan berkat jasa-jasa, motivasi dan bantuan dari dosen pembimbing mata kuliah humaniora Rika Feranita, S.Sos,. M.Pd dan kerja sama kelompok.Oleh karena itu, dengan penuh ketulusan dari lubuk hati yang paling dalam kami sampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah humaniora Rika Feranita, S.Sos,. M.Pd kuliah selaku pembimbing kelompok kami dalam menyelesaikan penulisan makalah ini. Atas bimbingan, arahan, saran, motivasi dan kesabarannya, kami sampaikan  terima kasih.
Terakhir, kami juga sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran konstruktif dari para pembaca yang budiman sangat diharapkan demi perbaikan dan kebaikan makalah ini. Semoga makalah yang berbentuk karya tulis ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua, terutama bagi diri kami sendiri. Amin ya Robbal‘Alamiin…...


Palembang, 20 September 2017



Penyusun 


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ii
DAFTAR ISI......................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………..........……………….....……1
1.1   Latar Belakang…………………………………………………………................…..1
1.2   Rumusan Masalah……………………………………………………….............……1
1.3   Tujuan Masalah……………………………………………………………....….....2
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
2.1   Pengetahuan dan Keyakinan........................................................................................3
2.2   Macam-macam Pengetahuan.......................................................................................4
2.2.1        Pengetahuan Rasionalisme............................................................................4
2.2.2        Pengetahuan Empirisme...............................................................................5
2.2.3        Sintesis...........................................................................................................7
2.2.3.1   Beberapa Unsur Sintesis..............................................................................7
2.2.3.2   Imanuel Kant...............................................................................................8
2.2.3.3   Pengetahuan Apriori dan Aposteriori..........................................................9
2.3   Kebenaran Ilmiah.........................................................................................................9
2.3.1                  Definisi Kebenaran Ilmiah....................................................................................9
2.3.2                  Sifat-sifat Kebenaran Ilmiah? ............................................................................10
BAB III PENUTUP........................................................................................................12
3.1  Kesimpulan......................................................................................................................12
3.2  Saran................................................................... ............................................................12
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................iv
LAMPIRAN.....................................................................................................................v






BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Menusia diartikan sebagai hewan yang berakal, oleh karena itu menusia berupaya dengan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan akalnya. Dalam hal ini pengetahuan adalah sebuah keniscayaan. Manusia secara lahiriah telah memiliki aspek fitrah untuk mengetahui segala hal yang ada, “ada” yang dimaksud disini adalah baik yang material atau yang bersifat transedental.
Pengetahuan merupakan objek utama dalam filsafat ilmu. Pengetahuan pada dasarnya memilliki tiga kriteria:
1.      Adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran.
2.      Persesuaian antara gagasan dan benda-benda yang sebenar-benarnya.
3.      Adanya keyakinan tentang persesuaian itu.
Dari kriteria ini dapat ditegaskan bahwa pengetahuan dibangun dari gagasan dalam pikiran, persesuaian-persesuaian dengan yang sebenarnya, dan adanya keyakinan tentang persesuaian itu. Kriteria ini yang menjadikan pengetahuan dapat dikatakan benar. Pengetahuan erat sekali dengan kebenaran. Lalu apa yang disebut dengan benar atau kebenaran itu? Kebenaran disini diartikan sebagai kesesuaian pengetahuan dengan objeknya.
Kebenaran tidak begitu saja langsung diterima tetapi kebenaran harus melalui beberapa konsep, proses, atau cara mendapatkan kebenaran itu. Jika terpenuhinya proses-proses atau dilalui dengan berbagai cara maka ini disebut dengan kebenaran ilmiah.
Penulis berpandangan bahwa untuk mengetahui lebih dalam tentang arti kebenaran ilmiah maka makalah ini ditulis dengan judul “PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN”

1.2         Rumusan Masalah
Dari penjelasan di atas dapat dirumuskan beberapa rumusana masalah sebagai beikut :
1.    Apa yang dimaksud dengan pengetahuan dan keyakinan?
2.    Apa itu pengetahuan rasionalisme dan empirisme?
3.    Apa itu kebenaran ilmiah?


1.3         Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah di atas tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.    Untuk mengetahui arti dari pengetahuan dan keyakinan.
2.    Untuk mengetahui apa itu pengetahuan rasionalisme dan empirisme.
3.    Untuk memahami arti kebenaran ilmiah..



BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Pengetahuan dan Keyakinan
Menurut Pudjawidjana (1983), pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan insera sebuah objek tertentu.
Menurut Ngatimin (1990), pengetahuan adalah sebagai ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai.
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Dari beberapa pengertian pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan diperoleh seseorang dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan bertindak. Pengetahuan merupakan ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari, dilihat, didengar sebelumnya.
Contoh :
1.             Orang yang belum pernah belajar tentang jaringan kemudian orang tersebut melihat, membaca buku tentang jaringan, dan akhirnya orang tersebut mempunyai pengetahuan tentang jaringan.
2.             Ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran. Menurut teori kebenaran sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang tidak disertai bukti yang nyata.

Contoh :
Misalnya, petir disebabkan oleh amukan para dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa dikatakan sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena adanya tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai pengetahuan.

2.2         Macam-macam Pengetahuan
2.2.1   Pengetahuan Rasionalisme
Inti dari pandangan rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Sumber dari  pengetahuan ini adalah akal budi manusia. Akal budilah yang memberi kita pengetahuan yang pasti benar tentang ssuatu. Konsekuensinya kaum rasionalisme menolak anggapan bahwa kita bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindera kita.
Terdapat dua tokoh besar paham rasionalisme, adalah sebagai berikut.
a.             Plato
 Plato adalah pemikiran rasionalis pertama. Menurut plato, satu-satunya pengetahuan sejari adalah apa yang disebutkan sebagai episteme, yaitu pengetahuan sejati dan tak berubah, sesuai ide-ide abadi. Jadi pengetahuan bagi plato adalah hasil ingatan yang melekat pada manusia. Pengetahuan adalah pengenalan kembali akan hal-hal yang sudah diketahui dalam Ide Abadi. Pengetahuan adalah kumpulan ingatan terpendam dalam benak manusia.


b.             Rene Descartes

Descartes adalah filsuf yang meneruskan sikap kaum skeptis. Sasaran utama Descartes adalah bagaimana kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti benar. Kita perlu meraguakan segala sesuatu sampai kita mempunyai ide yang jelas dan tepat (clara et distinct). Descrates menghendaki agar kita tetap untuk sementara waktu apa saja yang tidak bisa kita lihat dengan terang akal budi sebagai yang pasti 
benar dan tidak diragukan lagi. Ini disebut dengan keraguan metodis, yang berfungsi sebagai alat untuk menyingkirkan smua prasangka, tebakan, dan dugaan yang menipu dan karenanya menghalangi kita untuk sampai pada pengetahuan yang benar-benar punya dasar yang kuat. Salah satu unsur utama yang menipu dan menghalangi kita untuk sampai pada pengetahuan sejati adalah pengalaman iderawi. Menurut Descartes yang perlu dilakukan adalah menggunakan alat ilmu ukur dan matematika sampai pada kebenaran yang pasti, yaitu akal budi, karena hanya akal budi yang bisa memberi kita kepastian.

Berikut ini adalah rumusan penting dari rasionalisme. Kaum rasionalis lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika, yang memiliki aksioma-aksioma umum lepas dari pengamatan atau pengalaman indera bagi pengetahuan. Bagi mereka panca indera bisa menipu, oleh karena itu panca indera tidak bisa diandalkan. Atas dasar ini pula, bagi kaum rasionalis, semua pengetahuan apriori terutama mengandalkan silogisme. Yang ditekankan adalah kemampuan akal budi manusia untuk menarik kesimpulan dari prinsip umum tertentu yang sudah ada dalam benaknya. Oleh karena itu, logika silogisme menjadi penting, jadi kaum rasionalis, pasti benar secara apriori tanpa perlu dibuktikan berdasarkan fakta dari pengalaman.

2.2.2   Pengetahuan Empirisme
Empirisme adalah paham filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman, yang paling pokok untuk bisa sampai pada pengetahuan yang benar menurut kaum empiris adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pnaca indera kita. Sehingga, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang diperoleh melalui pengalaman pengamatan pancaindera. Maka sumber pengetahuan adalah pengalaman dan pengamatan pancaindera tersebut yang memeberi data dan fakta bagi pengetahuan kita. Atas dasar ini, bagi kaum empiris, semua pengetahuan bersifat empiris. Pengetahuan yang benar dan sejati,yaitu pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan inderawi, pengetahuan empiris.
Pancaindera memainkan peran yang penting dibandingkan dengan akal budi karena, pertama, semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau yang disimpulkan dari pengalaman. Kedua, kita tidak bisa punya konsep atau ide apapun tentang sesuatu kecuali didasarkan oada apa yang kita peroleh dari pengalaman. Ketika akal budi hanya berfungsi kalau punya acuan kerealitasan atau pengalaman.
                                                
a.             John Locked

Locked menolak pendapat kaum rasionalis bahwa manusia telah dilakirkan dengan ide-ide bawaan, dengan prinsip pertama yang bersifat mutlak atau umum, baginya manusia dilahirkan ke dunia ini seperti sebuah kertas putih yang kosong, tanpa ide atau konsep apapun. Locke membedakan antara dua macam ide, yaitu ide-ide sederhana dan ide-ide kompleks. Ide-ide sederhana adalah ide yang kita tangkap pertama melalui penciuman, penglihatan, rabaan, dan semacamnya.
Tetapi akal budi tidak hanya mnerima secara pasif ide-ide dari luar. Ia kemudian mengolah lebih lanjut ide-ide itu dengan memilkirkan, meragukan, mempertanyakan, menggolongkan, dan mengolah apa yang diberikan pancaindera, demikian seterusnya dan demikian lahirnya refleksi. Selain itu Locke, juga membedakan antara sifat atau kualitas primer dari objek dan sifat sekunder dari objek di sekitar kita. Kualitas primer mencakup berat, gerak, luas, dan jumlah. Sedangakn kualitas sekunder mencakup rasa, warna, panas-dingin, dan semacamnya. Dengan kata lain, pengetahuan tentang kualitas primer adalah pengetahuan obektif yang menyangkut objek apa adanya, sedangkan pengetahuan sekunder sangat ditentukan oleh sudur pandang, pancaindera, dan subjektivitas si subjek.

b.             David hume
Menurut Hume, pemahaman manusia dipengaruhi oleh
sejumlah kepastian dipengaruhi oleh sejumlah kepastian dasar tertentu mengenai dunia eksternal, mengenai masa depan, mengenai sebab bahwa kepastian ini merupakan hasil bagian dari naluri alamiah manusia, yang tidak bisa dihasilakn ataupun dicegah oleh akal budi atau proses pemikiran manusia. Hume membedakan dua proses mental dalam diri manusia.
Pertama, adalah kesan (impresi), yang merupakan semua macam penyerapan pancaindera yang lebih hidup dan langsung sifatnya. Kedua, adalah pemikiran atau ide yang kurang hidup dan kurang langsung sifatnya.

Dari impresi muncul ide-ide sederhana yang berkaitan dengan obek yang kita tangkap langsung dengan panca indera. Selanjutnya ide sederhana itu, akal budi manusia mampu menghasilakn ide-ide majemuk tentang hal-hal yang tidak kita tangkap melalui pancaindera kita. Lalu hume membuat keterkaitan ide antar ide ini satu sama lain, keterkaitan itu dicapai dengan menggunakan prinsip yang disebut Hume sebagai hukum asosiasi yang terdiri dari tiga unsur. Pertama, prinsip kemiripan yang berarti ide tentang suatu objek cendering melahirkan dalam akal budi kita objek lainnya yang serupa atau mirip.Kedua, prinsip kontinuitas dalam tempat dan waktu, yaitu kecenderungan akal budi untuk mengingat hal lain yang punya kaitan dengan hal atau peristiwa lainnya. Ketiga, prinsip sebab dan akibat. Ide yang satu memunculkan ide yang lainnya tentang sebab atu akibat dari hal atau peristiwa tersebut. Menurut Hume, pengetahuan ini dicapai bukan melalui penalaran apriori, melainkan berdasarkan pengalaman ketika kita menemukan bahwa objek khusus tersebut selalu berkaitan dengan objek khusus lainnya. Pengalamanlah yang mengajarkan kepada kita bagaimana suatu peristiwa diikuti oleh peristiwa lainnya. Jadi hukum sebab-akibat, hukum yang menyangkut operasi segala peristiwa di alam semesta ini hanya bisa diketahui berdasarkan pengalaman karena satu peristiwa menyusul peristiwa lain, dengan sendirinys berarti yang satu disebabkan oleh yang lainnya.

Berikut ini beberapa hal penting untuk paham empirisme, yaitu  pertama, kaum empirisis mengaku bahwa persepsi atau proses penginderaan sampai tingkat tertentu tidak dapat diragukan, yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap dan memutuskan apa yang ditangkap oleh pancaindra. Kedua, terlihat jelas bahwa empirisme hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan empiris, yaitu pengetahuan tentang dunia yang berkaitan dengan pengalaman manusia. Ketiga, karena lebih menekankan pengalam sebagai sumber pengetahuan manusia, kaum empiris jadinya lebih menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan induktif, yaitu cara kerja ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan, pada ksperimen untuk bisa sampai pada pengetahuan umum yang tidak terbantahkan. Oleh karena itu, pengetahuan yang ditekankan kaum empiris adalah pengetahuan aposteriori. Sumbangan bsarnya adalah memacu percobaan yang didasarkan pada observasi dan penelitian empiris. Keempat, kepastian mengenai pengetahuan empiris harus dicek berdasarkan pengamatan, data, pengalaman, dan bukan berdasarkan akal budi.

2.2.3   Sintesis
2.2.3.1            Beberapa unsur sintesis
Kedua paham diatas tersebut terlalu ekstrim, artinya di satu pihak sama-sama benar tetapi dipihak lain sama-sama keliru. Benar adalah dengan pengertian, bahwa kaum rasionalis benar ketika mengatakan bahwa pengetahuan manusia bersumber dari akal budi manusia. Ebaliknya kaum empirisme juga benar bahwa pengetahuan manusa bersumber dari pengalaman manusia. Keduanya keliru karena terlalu ekstrem menganggap pengetahuan hanya bersumber dari salah satu saja, atau akal budi atau pengalaman indrawi manusia. Sintesis dari kedua paham yang berbeda ini, sesungguhnya sampai pada tingkat tertentu telah kita temukan pada Aristoteles. Dengan tegas aristoteles, mengungkapkan sebuah prinsip yang dianggap sebagai dasar paham empirisisme bahwa “Tidak ada sesuatu pun dalam akal budi yang tidak ada terlebih dahulu dalam indra”.

2.2.3.2            Immanuel Kant
Immanuel kant adalah filsuf yang paling berjasa mendamaikan kedua aliran pemikiran ini. Sukses terbesarnya adalah bahwa ia mendamaikan empirisisme dan rasionalisme. Kant mengatakan bahwa kendati pengetahuan berasal dari pengalaman pancaindra, dalam diri manusia sesungguhnya sudah ada kategori-kategori, bentuk, fan forma sebagaimana dikatakan Plato, yang memungkinkan kita menangkap benda-benda ini sebagaimna adanya.

Kant menyebut ruang dan waktu sebagai bentuk-bentuk intuisi kita. Selain kategori itu, Kant juga berpendapat bahwa dalam benak kita sudah ada kategori hukum sebab akibat, yang mana adalah suatu bentuk yang sudah ada dalam benak manusia sejak lahir, bersifat abadi dan mutlak karena akal budi manusia menangkpa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sebagai terjadi dalam hubungan sebab dan akibat.
Menurut Kant, ada dua unsur yang ikut melahirkan pengetahuan manusia. Pertama, adalah kondisi eksternal manusia yang menyangkut benda-benda yang tidak bisa kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan pancaindra kita. Ini yang disebut sebagai objek material dari pengetahuan. Kedua, adalah kondisi internal yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Ini menyangkut kategori ruang dan waktu serta hukum sebab akibat. Ini yang disebut sebagai objek formal pengetahuan.
Kant berpendapat bahwa ada dua cara yang saling terkait dan menunjang satu sama lain untuk bisa sampai pada suatu pengetahuan. Pertama, secara empiris, yaitu dengan mengacu pada pengalaman dan pengamatan inderawi, pada bagaimana benda atau objek tertentu tampak pada kita melalui pancaindra. Kedua, suatu objek hanya bisa ditangkap oleh pancaindera kalau kita sudah mempunyai kategori-kategori tertentu.
Di satu pihak akal budi menangkap benda tertentu sesuai dengan bentuk benda itu tetapi di pihak lain benda itu sendiri menyesuaikan diri dengan bentukbentuk yang telah ada dalam akal budi manusia. Maka kesimpulannya adalah, Pertama, bagi Kant, manusia sesungguhnya sudah punya bakat untuk mengetahui sesuatu. Manusia selalu memakai kacamata tertentu (ruang dan waktu, serta hukum sebab dan akibat) dalam menangkap, mengamati, dan mengalami segala sesuatu di alam semesta ini. Kedua, Kant tidak hanya mendamaikan empirisisme dan rasionalisme tetapi juga metode induksi (empirisisme) dan metode deduktif (rasionalis).

2.2.3.3            Pengetahuan Apriori dan Pengetahuan Aposteriori
Istilah apriori secara harfiah berarti “dari yang lebih dulu atau sebelum”, sedangkan istilah aposteriori berarti “dari apa yang sesudahnya”. Menurut Leibniz, mengetahui realitas secara aposteriori berarti mengetahuinya berdasarkan apa yang ditemukan secara actual di dunia ini, yaitu melalui pancaindera, dari pengaruh yang ditimbulkan realitas itu dalam pengalaman kita. Sebaliknya, mengetahui realitas secara apriori adalah mengetahuinya dengan mengenakan sebab pada realitas itu. Olehkarena itu Leibniz membedakan antara “kebenaran aposteriori, atau kebenaran yang berasal dari fakta” dan “kebenaran apriori atau kebenaran yang berasal dari akal budi”. 

2.3         Kebenaran Ilmiah
Salah satu pokok yang fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin) manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis, jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86).
Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
                                                              
2.3.1             Definisi Kebenaran
Kebenaran dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.

2.3.2             Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.             Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan  sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2.             Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3.             Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suaTU “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.

Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.


BAB III
PENUTUP

3.1         Kesimpulan
Pengetahuan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan diperoleh seseorang dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan bertindak. Pengetahuan merupakan ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari, dilihat, didengar sebelumnya.
Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Kebenaran dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.

3.2         Saran
Dalam hal ini penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyajikan makalah ini dengan berbagai pengetahuan yang dimiliki. Penulis juga berpendapat bahwa pengetahuan yang identik dengan kebenaran menjadi dasar bagi kita untuk mencari pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan objek yang dikaji, sehingga kita semakin kritis dan kebenaran yang kia miliki dapat menjadi dasar dalam segala hal lalu dapat diandalkan.
Namun, menyadari bahwa penulis adalah manusia biasa oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun, agar makalah ini menjadi lebih baik lagi. Atas kritik dan saran yang diberikan diucapkan terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA

Sumber buku
Asmoro, Achmadi, Filsafat Umum, PT. Rajagrafindo Persada, 2005

Beni Ahmad Saebani, Filsafat Ilmu: Kontemplasi Filosofis Tentang Seluk-Beluk Sumber
dan Tujuan Ilmu Pengetahuan, PT. Pustaka Setia, Bandung: 2009.

Budiono, Kamus Ilmiah Populer Internasional, PT. Karya Harapan, Surabaya: 2005.

Hardono Hadi, Jati diri Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead, PT. Kanisius,
Yogyakarta: 1996.

Jan Hendrik Rapar,  Pengantar Filsafat, PT. Kanisius, 2000

Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar  Populer, PT. Sinar Harapan, Jakarta:   1998.

Louis O Kattsoff, Element Of Philosophy, diterjemahkan oleh Soejono Soemargono,
Pengantar filsafat, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta: 1996.

Muhammad In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat, UIN Maliki Press, Malang:    2010.
Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan, PT. Alfabeta, Bandung: 2008.
Sumber Internet
http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/811      diakses pada 4 November 2017






Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERENCANAN DALAM MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN

Konsep Sehat Sakit

Cara Menggabungkan Halaman Angka Romawi (ex: I, II, II) dan Angka Biasa (ex: 1, 2, 3)