Teori-teori Tentang Pengetahuan
PENGETAHUAN
DAN KEYAKINAN

Mata
Kuliah : Humaniora
Bobot : 2 SKS
Program
Studi : D-IV Kebidanan
Semester : 1 (Ganjil)
Dosen
Pembimbing : Rika Feranita, S.Sos,.
M.Pd.
Disusun Oleh: Kelompok 5
1. Rita
Rukmawati
2. Dwi
Puspita Sindi
3. Intan
Wilujeng
4. Emi
Latifah Sukasna
POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2017/2018
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................................ii
DAFTAR
ISI......................................................................................................................iii
BAB
I PENDAHULUAN…………………………………..........……………….....……1
1.1 Latar
Belakang…………………………………………………………..............…..1
1.2 Rumusan
Masalah……………………………………………………….........……1
1.3 Tujuan
Masalah………………………………………………………………...…..2
BAB
II PEMBAHASAN.....................................................................................................3
2.1 Pengetahuan dan Keyakinan..........................................................................................3
2.2 Macam-macam Pengetahuan.........................................................................................4
2.2.1
Pengetahuan
Rasionalisme..............................................................................4
2.2.2
Pengetahuan Empirisme..................................................................................5
2.2.3
Sintesis............................................................................................................7
2.2.3.1
Beberapa Unsur Sintesis..................................................................7
2.2.3.2
Imanuel Kant....................................................................................8
2.2.3.3
Pengetahuan Apriori dan Aposteriori..............................................9
2.3 Kebenaran Ilmiah..........................................................................................................9
2.3.1
Definisi Kebenaran Ilmiah...........................................................................9
2.3.2
Sifat-sifat Kebenaran Ilmiah? ....................................................................10
BAB
III PENUTUP...........................................................................................................12
3.1
Kesimpulan.............................................................................................................12
3.2
Saran...................................................................
...................................................12
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................................iv
LAMPIRAN........................................................................................................................v
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamiin… Tiada
kata yang lebih pantas yang dapat kami ungkapkan dan puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia dan Ridho-Nya, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang telah
mengajarkan kita tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk
orang-orang yang mendapatkan syafa’at beliau di hari akhir kelak. Amin.
Penulisan makalah ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas pada
mata kuliah Humaniora semester pertama Program Studi DIV Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Palembang Tahun Ajaran 2017-2018.
Penulisan makalah dapat
terselesaikan berkat jasa-jasa, motivasi dan bantuan dari dosen pembimbing mata
kuliah humaniora Rika Feranita, S.Sos,. M.Pd dan kerja sama kelompok.Oleh
karena itu, dengan penuh ketulusan dari lubuk hati yang paling dalam kami
sampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah humaniora Rika
Feranita, S.Sos,. M.Pd kuliah selaku pembimbing kelompok kami dalam
menyelesaikan penulisan makalah ini. Atas bimbingan, arahan, saran, motivasi
dan kesabarannya, kami sampaikan terima
kasih.
Terakhir, kami juga
sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan saran konstruktif dari para pembaca yang budiman sangat diharapkan demi
perbaikan dan kebaikan makalah ini. Semoga makalah yang berbentuk karya tulis
ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua, terutama bagi diri kami
sendiri. Amin ya Robbal‘Alamiin…...
Palembang, 20 September 2017
Penyusu
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamiin… Tiada
kata yang lebih pantas yang dapat kami ungkapkan dan puji syukur kehadirat
Allah SWT yang telah memberikan rahmat, karunia dan Ridho-Nya, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam semoga tetap
tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi agung Muhammad SAW yang telah
mengajarkan kita tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Semoga kita termasuk
orang-orang yang mendapatkan syafa’at beliau di hari akhir kelak. Amin.
Penulisan makalah ini
dimaksudkan untuk memenuhi tugas pada
mata kuliah Humaniora semester pertama Program Studi DIV Kebidanan Poltekkes
Kemenkes Palembang Tahun Ajaran 2017-2018.
Penulisan makalah dapat
terselesaikan berkat jasa-jasa, motivasi dan bantuan dari dosen pembimbing mata
kuliah humaniora Rika Feranita, S.Sos,. M.Pd dan kerja sama kelompok.Oleh
karena itu, dengan penuh ketulusan dari lubuk hati yang paling dalam kami
sampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah humaniora Rika
Feranita, S.Sos,. M.Pd kuliah selaku pembimbing kelompok kami dalam
menyelesaikan penulisan makalah ini. Atas bimbingan, arahan, saran, motivasi
dan kesabarannya, kami sampaikan terima
kasih.
Terakhir, kami juga
sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan saran konstruktif dari para pembaca yang budiman sangat diharapkan demi
perbaikan dan kebaikan makalah ini. Semoga makalah yang berbentuk karya tulis
ini dapat bermanfaat dan berguna bagi kita semua, terutama bagi diri kami
sendiri. Amin ya Robbal‘Alamiin…...
Palembang, 20 September 2017
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Menusia
diartikan sebagai hewan yang berakal, oleh karena itu menusia berupaya dengan
sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan akalnya. Dalam hal ini pengetahuan
adalah sebuah keniscayaan. Manusia secara lahiriah telah memiliki aspek fitrah
untuk mengetahui segala hal yang ada, “ada” yang dimaksud disini adalah baik
yang material atau yang bersifat transedental.
Pengetahuan
merupakan objek utama dalam filsafat ilmu. Pengetahuan pada dasarnya memilliki
tiga kriteria:
1.
Adanya suatu sistem gagasan dalam pikiran.
2.
Persesuaian antara gagasan dan benda-benda yang sebenar-benarnya.
3.
Adanya keyakinan tentang persesuaian itu.
Dari
kriteria ini dapat ditegaskan bahwa pengetahuan dibangun dari gagasan dalam pikiran,
persesuaian-persesuaian dengan yang sebenarnya, dan adanya keyakinan tentang
persesuaian itu. Kriteria ini yang menjadikan pengetahuan dapat dikatakan
benar. Pengetahuan erat sekali dengan kebenaran. Lalu apa yang disebut dengan
benar atau kebenaran itu? Kebenaran disini diartikan sebagai kesesuaian
pengetahuan dengan objeknya.
Kebenaran
tidak begitu saja langsung diterima tetapi kebenaran harus melalui beberapa
konsep, proses, atau cara mendapatkan kebenaran itu. Jika terpenuhinya
proses-proses atau dilalui dengan berbagai cara maka ini disebut dengan
kebenaran ilmiah.
Penulis
berpandangan bahwa untuk mengetahui lebih dalam tentang arti kebenaran ilmiah
maka makalah ini ditulis dengan judul “PENGETAHUAN DAN KEYAKINAN”
1.2
Rumusan Masalah
Dari penjelasan
di atas dapat dirumuskan beberapa rumusana masalah sebagai beikut :
1.
Apa yang dimaksud dengan pengetahuan dan keyakinan?
2.
Apa itu pengetahuan rasionalisme dan empirisme?
3.
Apa itu kebenaran ilmiah?
1.3
Tujuan Masalah
Dari rumusan
masalah di atas tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui arti dari pengetahuan dan keyakinan.
2. Untuk
mengetahui apa itu pengetahuan rasionalisme dan empirisme.
3. Untuk
memahami arti kebenaran ilmiah..
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengetahuan
dan Keyakinan
Menurut Pudjawidjana
(1983), pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar
melalui persentuhan melalui objek dengan insera sebuah objek tertentu.
Menurut Ngatimin
(1990), pengetahuan adalah sebagai ingatan atas bahan-bahan yang telah
dipelajari dan mungkin ini menyangkut tentang mengikat kembali sekumpulan bahan
yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan
menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai.
Menurut Notoatmodjo
(2007), pengetahuan adalah hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan
penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Dari beberapa
pengertian pengetahuan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan
segala sesuatu yang diketahui dan merupakan segala sesuatu yang diketahui dan
diperoleh seseorang dari persentuhan panca indera terhadap objek tertentu.
Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar,
merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan bertindak.
Pengetahuan merupakan ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari, dilihat,
didengar sebelumnya.
Contoh :
1.
Orang yang belum pernah belajar tentang
jaringan kemudian orang tersebut melihat, membaca buku tentang jaringan, dan
akhirnya orang tersebut mempunyai pengetahuan tentang jaringan.
2.
Ketika seseorang mencicipi masakan yang
baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan
aroma masakan tersebut.
Keyakinan
adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan
menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang
akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan
terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran. Menurut teori kebenaran
sebagai kesesuaian, keyakinan adalah suatu pernyataan yang tidak disertai bukti
yang nyata.
Contoh :
Misalnya, petir disebabkan oleh
amukan para dewa. Pernyataan ini tidak bisa dibuktikan, sehingga hanya bisa
dikatakan sebagai suatu keyakinan. Sementara pernyataan petir disebabkan kerena
adanya tabrakan antara awan yang bermuatan positif dan negative adalah suatu
kebenaran, karena dapat dibuktikan. Sehingga pernyataan ini disebut sebagai
pengetahuan.
2.1
Macam-macam
Pengetahuan
2.1.1
Pengetahuan
Rasionalisme
Inti dari pandangan
rasionalisme adalah bahwa hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal
saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang
tidak mungkin salah. Sumber dari
pengetahuan ini adalah akal budi manusia. Akal budilah yang memberi kita
pengetahuan yang pasti benar tentang ssuatu. Konsekuensinya kaum rasionalisme menolak
anggapan bahwa kita bisa menemukan pengetahuan melalui pancaindera kita.
Terdapat
dua tokoh besar paham rasionalisme, adalah sebagai berikut.
a.
Plato
Plato
Plato
adalah pemikiran rasionalis pertama. Menurut plato, satu-satunya pengetahuan
sejari adalah apa yang disebutkan sebagai episteme, yaitu pengetahuan sejati
dan tak berubah, sesuai ide-ide abadi. Jadi pengetahuan bagi plato adalah hasil
ingatan yang melekat pada manusia. Pengetahuan adalah pengenalan kembali akan
hal-hal yang sudah diketahui dalam Ide Abadi. Pengetahuan adalah kumpulan
ingatan terpendam dalam benak manusia.
b.
Rene
Descartes
Rene
Descartes
Descartes
adalah filsuf yang meneruskan sikap kaum skeptis. Sasaran utama Descartes
adalah bagaimana kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti benar. Kita perlu
meraguakan segala sesuatu sampai kita mempunyai ide yang jelas dan tepat (clara
et distinct). Descrates menghendaki agar kita tetap untuk sementara waktu apa
saja yang tidak bisa kita lihat dengan terang akal budi sebagai yang pasti
benar dan tidak diragukan
lagi. Ini disebut dengan keraguan metodis, yang berfungsi sebagai alat untuk
menyingkirkan smua prasangka, tebakan, dan dugaan yang menipu dan karenanya
menghalangi kita untuk sampai pada pengetahuan yang benar-benar punya dasar
yang kuat. Salah satu unsur utama yang menipu dan menghalangi kita untuk sampai
pada pengetahuan sejati adalah pengalaman iderawi. Menurut Descartes yang perlu
dilakukan adalah menggunakan alat ilmu ukur dan matematika sampai pada
kebenaran yang pasti, yaitu akal budi, karena hanya akal budi yang bisa memberi
kita kepastian.
Berikut
ini adalah rumusan penting dari rasionalisme. Kaum rasionalis lebih
mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika, yang memiliki
aksioma-aksioma umum lepas dari pengamatan atau pengalaman indera bagi
pengetahuan. Bagi mereka panca indera bisa menipu, oleh karena itu panca indera
tidak bisa diandalkan. Atas dasar ini pula, bagi kaum rasionalis, semua
pengetahuan apriori terutama mengandalkan silogisme. Yang ditekankan adalah
kemampuan akal budi manusia untuk menarik kesimpulan dari prinsip umum tertentu
yang sudah ada dalam benaknya. Oleh karena itu, logika silogisme menjadi
penting, jadi kaum rasionalis, pasti benar secara apriori tanpa perlu
dibuktikan berdasarkan fakta dari pengalaman.
2.1.2
Pengetahuan
Empirisme
Empirisme adalah paham
filosofis yang mengatakan bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia
adalah pengalaman, yang paling pokok untuk bisa sampai pada pengetahuan yang
benar menurut kaum empiris adalah data dan fakta yang ditangkap oleh pnaca
indera kita. Sehingga, satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang
diperoleh melalui pengalaman pengamatan pancaindera. Maka sumber pengetahuan
adalah pengalaman dan pengamatan pancaindera tersebut yang memeberi data dan
fakta bagi pengetahuan kita. Atas dasar ini, bagi kaum empiris, semua
pengetahuan bersifat empiris. Pengetahuan yang benar dan sejati,yaitu
pengetahuan yang pasti benar adalah pengetahuan inderawi, pengetahuan empiris.
Pancaindera memainkan
peran yang penting dibandingkan dengan akal budi karena, pertama, semua
proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau yang
disimpulkan dari pengalaman. Kedua, kita tidak bisa punya konsep atau ide
apapun tentang sesuatu kecuali didasarkan oada apa yang kita peroleh dari
pengalaman. Ketika akal budi hanya berfungsi kalau punya acuan kerealitasan
atau pengalaman.
a.
John
Locked
Locked menolak pendapat
kaum rasionalis bahwa manusia telah dilakirkan dengan ide-ide bawaan, dengan
prinsip pertama yang bersifat mutlak atau umum, baginya manusia dilahirkan ke
dunia ini seperti sebuah kertas putih yang kosong, tanpa ide atau konsep apapun.
Locke membedakan antara dua macam ide, yaitu ide-ide sederhana dan ide-ide
kompleks. Ide-ide sederhana adalah ide yang kita tangkap pertama melalui
penciuman, penglihatan, rabaan, dan semacamnya.
Tetapi akal budi tidak
hanya mnerima secara pasif ide-ide dari luar. Ia kemudian mengolah lebih lanjut
ide-ide itu dengan memilkirkan, meragukan, mempertanyakan, menggolongkan, dan
mengolah apa yang diberikan pancaindera, demikian seterusnya dan demikian
lahirnya refleksi. Selain itu Locke, juga membedakan antara sifat atau kualitas
primer dari objek dan sifat sekunder dari objek di sekitar kita. Kualitas
primer mencakup berat, gerak, luas, dan jumlah. Sedangakn kualitas sekunder
mencakup rasa, warna, panas-dingin, dan semacamnya. Dengan kata lain,
pengetahuan tentang kualitas primer adalah pengetahuan obektif yang menyangkut
objek apa adanya, sedangkan pengetahuan sekunder sangat ditentukan oleh sudur
pandang, pancaindera, dan subjektivitas si subjek.
b.
David
hume
David
hume
Menurut
Hume, pemahaman manusia dipengaruhi oleh sejumlah kepastian dasar tertentu
mengenai dunia eksternal, mengenai masa depan, mengenai sebab bahwa kepastian
ini merupakan hasil bagian dari naluri alamiah manusia, yang tidak bisa
dihasilakn ataupun dicegah oleh akal budi atau proses pemikiran manusia. Hume
membedakan dua proses mental dalam diri manusia.
Pertama,
adalah kesan (impresi), yang merupakan semua macam penyerapan pancaindera yang
lebih hidup dan langsung sifatnya. Kedua, adalah pemikiran atau ide yang kurang
hidup dan kurang langsung sifatnya.
Dari
impresi muncul ide-ide sederhana yang berkaitan dengan obek yang kita tangkap
langsung dengan panca indera. Selanjutnya ide sederhana itu, akal budi manusia
mampu menghasilakn ide-ide majemuk tentang hal-hal yang tidak kita tangkap
melalui pancaindera kita. Lalu hume membuat keterkaitan ide antar ide ini satu
sama lain, keterkaitan itu dicapai dengan menggunakan prinsip yang disebut Hume
sebagai hukum asosiasi yang terdiri dari tiga unsur. Pertama, prinsip kemiripan
yang berarti ide tentang suatu objek cendering melahirkan dalam akal budi kita
objek lainnya yang serupa atau mirip.Kedua, prinsip kontinuitas dalam tempat
dan waktu, yaitu kecenderungan akal budi untuk mengingat hal lain yang punya
kaitan dengan hal atau peristiwa lainnya. Ketiga, prinsip sebab dan akibat. Ide
yang satu memunculkan ide yang lainnya tentang sebab atu akibat dari hal atau
peristiwa tersebut. Menurut Hume, pengetahuan ini dicapai bukan melalui
penalaran apriori, melainkan berdasarkan pengalaman ketika kita menemukan bahwa
objek khusus tersebut selalu berkaitan dengan objek khusus lainnya.
Pengalamanlah yang mengajarkan kepada kita bagaimana suatu peristiwa diikuti
oleh peristiwa lainnya. Jadi hukum sebab-akibat, hukum yang menyangkut operasi
segala peristiwa di alam semesta ini hanya bisa diketahui berdasarkan
pengalaman karena satu peristiwa menyusul peristiwa lain, dengan sendirinys
berarti yang satu disebabkan oleh yang lainnya.
Berikut
ini beberapa hal penting untuk paham empirisme, yaitu pertama, kaum empirisis mengaku bahwa
persepsi atau proses penginderaan sampai tingkat tertentu tidak dapat
diragukan, yang keliru adalah daya nalar manusia dalam menangkap dan memutuskan
apa yang ditangkap oleh pancaindra. Kedua, terlihat jelas bahwa empirisme
hanyalah sebuah tesis tentang pengetahuan empiris, yaitu pengetahuan tentang
dunia yang berkaitan dengan pengalaman manusia. Ketiga, karena lebih menekankan
pengalam sebagai sumber pengetahuan manusia, kaum empiris jadinya lebih
menekankan pengalaman sebagai sumber pengetahuan induktif, yaitu cara kerja
ilmu-ilmu empiris yang mendasarkan diri pada pengamatan, pada ksperimen untuk
bisa sampai pada pengetahuan umum yang tidak terbantahkan. Oleh karena itu,
pengetahuan yang ditekankan kaum empiris adalah pengetahuan aposteriori. Sumbangan
bsarnya adalah memacu percobaan yang didasarkan pada observasi dan penelitian
empiris. Keempat, kepastian mengenai pengetahuan empiris harus dicek
berdasarkan pengamatan, data, pengalaman, dan bukan berdasarkan akal budi.
2.1.3 Sebuah Sintesis
2.1.3.1
Beberapa unsur
sintesis
Kedua paham diatas tersebut terlalu
ekstrim, artinya di satu pihak sama-sama benar tetapi dipihak lain sama-sama
keliru. Benar adalah dengan pengertian, bahwa kaum rasionalis benar ketika
mengatakan bahwa pengetahuan manusia bersumber dari akal budi manusia.
Ebaliknya kaum empirisme juga benar bahwa pengetahuan manusa bersumber dari
pengalaman manusia. Keduanya keliru karena terlalu ekstrem menganggap
pengetahuan hanya bersumber dari salah satu saja, atau akal budi atau
pengalaman indrawi manusia. Sintesis dari kedua paham yang berbeda ini,
sesungguhnya sampai pada tingkat tertentu telah kita temukan pada Aristoteles.
Dengan tegas aristoteles, mengungkapkan sebuah prinsip yang dianggap sebagai
dasar paham empirisisme bahwa “Tidak ada sesuatu pun dalam akal budi yang tidak
ada terlebih dahulu dalam indra”.
2.1.3.2
Immanuel
Kant
Immanuel
Kant
Immanuel kant adalah filsuf yang paling berjasa mendamaikan kedua aliran
pemikiran ini. Sukses terbesarnya adalah bahwa ia mendamaikan empirisisme dan
rasionalisme. Kant mengatakan bahwa kendati pengetahuan berasal dari pengalaman
pancaindra, dalam diri manusia sesungguhnya sudah ada kategori-kategori,
bentuk, fan forma sebagaimana dikatakan Plato, yang memungkinkan kita menangkap
benda-benda ini sebagaimna adanya.
Kant menyebut ruang dan waktu sebagai bentuk-bentuk intuisi kita. Selain
kategori itu, Kant juga berpendapat bahwa dalam benak kita sudah ada kategori
hukum sebab akibat, yang mana adalah suatu bentuk yang sudah ada dalam benak
manusia sejak lahir, bersifat abadi dan mutlak karena akal budi manusia
menangkpa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sebagai terjadi dalam
hubungan sebab dan akibat.
Menurut Kant, ada dua unsur yang ikut melahirkan pengetahuan manusia.
Pertama, adalah kondisi eksternal manusia yang menyangkut benda-benda yang
tidak bisa kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan pancaindra kita. Ini
yang disebut sebagai objek material dari pengetahuan. Kedua, adalah kondisi
internal yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Ini menyangkut kategori ruang
dan waktu serta hukum sebab akibat. Ini yang disebut sebagai objek formal
pengetahuan.
Kant berpendapat bahwa ada dua cara yang saling terkait dan menunjang satu
sama lain untuk bisa sampai pada suatu pengetahuan. Pertama, secara empiris,
yaitu dengan mengacu pada pengalaman dan pengamatan inderawi, pada bagaimana
benda atau objek tertentu tampak pada kita melalui pancaindra. Kedua, suatu
objek hanya bisa ditangkap oleh pancaindera kalau kita sudah mempunyai
kategori-kategori tertentu.
Di satu pihak akal budi menangkap benda tertentu sesuai dengan bentuk benda
itu tetapi di pihak lain benda itu sendiri menyesuaikan diri dengan
bentukbentuk yang telah ada dalam akal budi manusia. Maka kesimpulannya adalah,
Pertama, bagi Kant, manusia sesungguhnya sudah punya bakat untuk mengetahui
sesuatu. Manusia selalu memakai kacamata tertentu (ruang dan waktu, serta hukum
sebab dan akibat) dalam menangkap, mengamati, dan mengalami segala sesuatu di
alam semesta ini. Kedua, Kant tidak hanya mendamaikan empirisisme dan
rasionalisme tetapi juga metode induksi (empirisisme) dan metode deduktif
(rasionalis).
2.1.3.3
Pengetahuan
Apriori dan Pengetahuan Aposteriori
Istilah apriori secara harfiah berarti “dari yang lebih dulu atau sebelum”,
sedangkan istilah aposteriori berarti “dari apa yang sesudahnya”. Menurut
Leibniz, mengetahui realitas secara aposteriori berarti mengetahuinya
berdasarkan apa yang ditemukan secara actual di dunia ini, yaitu melalui
pancaindera, dari pengaruh yang ditimbulkan realitas itu dalam pengalaman kita.
Sebaliknya, mengetahui realitas secara apriori adalah mengetahuinya dengan
mengenakan sebab pada realitas itu. Olehkarena itu Leibniz membedakan antara
“kebenaran aposteriori, atau kebenaran yang berasal dari fakta” dan “kebenaran
apriori atau kebenaran yang berasal dari akal budi”.
2.2
Kebenaran Ilmiah
Salah satu pokok yang fundamental
dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya
mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata merupakan
tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin) manusia.
Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan
keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang
dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis, jelas
dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86).
Kebenaran ilmiah tidak bisa
dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan
dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya
haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
2.2.1
Definisi
Kebenaran
Kebenaran dapat dipahami berdasarkan
tiga hal yakni, kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana cara
atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu, dan nilai
kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan
itu.
2.2.2
Sifat
Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1.
Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai
berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu.
Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional
(yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami
kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai
kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan
sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional
terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku
bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan
marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun
tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2.
Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan
kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah,
berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa
dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu
spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu
pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut
juga benar secara empiris.
3.
Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis,
berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris).
Maksudnya, jika suaTU “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan
empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia.
Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan
dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran
yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat
pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan
sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang
disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan perlu mendapat
perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus
selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada
bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam
pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia).
Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan
subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering
dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan
antara kebenaran dengan ketidakbenaran.
BAB III
PENUTUP
2.1
Kesimpulan
Pengetahuan
merupakan segala sesuatu yang diketahui dan merupakan segala sesuatu yang
diketahui dan diperoleh seseorang dari persentuhan panca indera terhadap objek
tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat,
mendengar, merasakan, dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan
bertindak. Pengetahuan merupakan ingatan atas bahan-bahan yang telah
dipelajari, dilihat, didengar sebelumnya.
Keyakinan
adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan
menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang
akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan
terjadi setelah orang percaya adanya suatu kebenaran.
Kebenaran
dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan,
sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang
membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas
ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.
Kebenaran
ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi
pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status
ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana
pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
2.2
Saran
Dalam hal
ini penulis telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyajikan makalah ini
dengan berbagai pengetahuan yang dimiliki. Penulis juga berpendapat bahwa
pengetahuan yang identik dengan kebenaran menjadi dasar bagi kita untuk mencari
pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan objek yang dikaji, sehingga kita
semakin kritis dan kebenaran yang kia miliki dapat menjadi dasar dalam segala
hal lalu dapat diandalkan.
Namun,
menyadari bahwa penulis adalah manusia biasa oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun, agar makalah ini menjadi lebih
baik lagi. Atas kritik dan saran yang diberikan diucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku
Asmoro,
Achmadi, Filsafat Umum, PT. Rajagrafindo Persada, 2005
Beni Ahmad
Saebani, Filsafat Ilmu: Kontemplasi Filosofis Tentang Seluk-Beluk Sumber
dan Tujuan Ilmu Pengetahuan, PT. Pustaka Setia, Bandung: 2009.
Budiono, Kamus
Ilmiah Populer Internasional, PT. Karya Harapan, Surabaya: 2005.
Hardono
Hadi, Jati diri Manusia Berdasar Filsafat Organisme Whitehead, PT.
Kanisius,
Yogyakarta: 1996.
Jan Hendrik
Rapar, Pengantar Filsafat, PT. Kanisius, 2000
Jujun S.
Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, PT. Sinar
Harapan, Jakarta: 1998.
Louis O
Kattsoff, Element Of Philosophy, diterjemahkan oleh Soejono Soemargono,
Pengantar filsafat, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta: 1996.
Muhammad
In’am Esha, Menuju Pemikiran Filsafat, UIN Maliki Press,
Malang: 2010.
Uyoh Sadullah, Pengantar Filsafat Pendidikan,
PT. Alfabeta, Bandung: 2008.
Sumber
Internet
http://thetrueideas.multiply.com/journal/item/811 diakses
pada 4 November 2017
Komentar
Posting Komentar